Eomma, where’s appa?
FF PROJECT ANNIVERSARY
Author : Babydoll
Title : Eomma, where’s appa?
Cast : Cho Kyuhyun (Ahyoung husband’s)
Choi Ahyoung (Kyuhyun wife’s)
Cho Hyunsu (Kyuhyun-Ahyoung child’s)
Category : Romance, Complicated, NC21
Lenght : Longshot
FF PROJECT ANNIVERSARY
Author : Babydoll
Title : Eomma, where’s appa?
Cast : Cho Kyuhyun (Ahyoung husband’s)
Choi Ahyoung (Kyuhyun wife’s)
Cho Hyunsu (Kyuhyun-Ahyoung child’s)
Category : Romance, Complicated, NC21
Lenght : Longshot
Hei semua! Ini ff pertama yang aku post ke dunia maya. Biasanya aku bikin ff buat di diemin(?) aja di laptop heheheheXDDD. Tapi karena ada project ini, dan aku suka mampir kesini walaupun jarang, aku jadi berpikir buat ikutan:3333 berhubung aku ada ff yang sesuai tema dan aku acak-acak dikit dengan nambahin nc. Jadi yaaa gini’-‘)// maaf ya kalau ceritanya kurang pas(?) dihati. Kritik dan saran diterima dengan sukacita dan kalau bisa dengan bahasa yang baik guys!<3
WARNING : CERITA SEPENUHNYA MILIK AUTHOR DILARANG KERAS MENJIPLAK ATAUPUN MEM-POST ULANG TANPA IZIN AUTHOR.
Langsung aja yaaaa;;;;
“Hyunsu-ya kau sudah mengantuk eoh?” Ahyoung mengusap sayang rambut halus Hyunsu—anaknya dengan pernikahannya dengan Cho Kyuhyun. Saat ini Ahyoung sedang membantu Hyunsu mengerjakan tugas sekolahnya, dan baru menyadari kalau Hyunsu sudah mengantuk.
“Anniyo eomma. Hyunsu masih belum selesai menggambar, jadi Hyunsu belum mengantuk.” Hyunsu berusaha melebarkan matanya—mencoba menipu Ahyoung, tapi Ahyoung tahu Hyunsu berbohong. Seorang eomma pasti sudah sangat mengerti anaknya bukan?
“Kalau Hyunsu mengantuk juga tidak apa-apa. Besok kau bisa bangun pagi dan melanjutkan gambarnya, eotte?” Hyunsu menggeleng. “Hyunsu ingin menyelesaikan sekarang eomma. Kalau ditunda lagi, Hyunsu takut lupa wajah appa.”
Deg. Jantung Ahyoung berdetak cepat—kaget dengan kalimat Hyunsu. Tidak menyangka anaknya itu akan berpikir begitu. Ya, Kyuhyun memang sudah begitu lama meninggalkan rumah. Terhitung hingga hari ini sudah hampir 3bulan Kyuhyun tidak berada dirumah. Tapi, benarkah Hyunsu bisa sampai melupakan wajah appa-nya?
“Eomma?” Ahyoung tersadar dari lamunannya saat Hyunsu mengguncang lengannya. Secepat mungkin Ahyoung pun langsung merangkai kalimat untuk menanggapi Hyunsu. Hyunsu anak yang pintar dan tidak mudah dibohongi, bahkan terkadang Ahyoung suka kewalahan jika harus menjawab pertanyaan-pertanyaan cerdas Hyunsu—menurun dari Kyuhyun tentunya.
“Baiklah, kau boleh melanjutkannya. Tapi jangan salahkan eomma jika besok kau sampai tidak masuk sekolah karena tidak mau bangun tidur ya?”
Hyunsu mengangguk. Ahyoung bingung, untuk apa Hyunsu mengerjakan tugasnya begitu keras kalau akhirnya tidak dikumpulkan. Hm, mungkin malam ini pasangan anak dan eomma tersebut akan bicara banyak. “Tidak apa tidak masuk hm?” Hyunsu mengangguk lagi. Dia mewarnai sambil menyandarkan dagunya pada meja dihadapannya.
“Lalu kau tidak akan mengumpulkan gambarmu? Dan apakah Hyunsu mau tidak mendapat nilai?”
“Hm, Hyunsu tidak mau eomma. Hyunsu bingung tapi Hyunsu benar-benar ingin segera menyelesaikan gambar keluarga kita, terutama appa.” Suara Hyunsu mulai terdengar sendu. “Hyunsu sayang, bagaimana bisa kau melupakan wajah appa hm? Itu tidak mungkin sayang. Lagipula eomma memiliki banyak sekali foto tampan appa. Kau ingin melihatnya bersama eomma tidak?”
Ahyoung meraih tubuh mungil Hyunsu dan membawa tubuh bocah laki-laki itu kepelukan hangatnya. Menghentikan aktivitas menggambar Hyunsu—dan Hyunsu menurut. Karena sebelum Kyuhyun pergi, Kyuhyun memberi titah pada Hyunsu diantaranya supaya selalu menurut pada Ahyoung. “Hyunsu kenapa diam? Apakah eomma berbuat salah? Tidak ingin bicara dengan eomma kah?”
“Bukan begitu eomma. Hyunsu sedih. Eomma tidak berbuat salah.”
“Hyunsu sedih kenapa? Cerita sama eomma nde? Seingat eomma, appa berpesan pada Hyunsu untuk menurut dan jujur pada eomma. Jadi kau tidak ingin membuat appa sedih kan karena tidak menuruti kata-katanya?”
Hyunsu menyurukkan wajahnya ke dada Ahyoung, memegang erat baju tidur Ahyoung yang bisa dijangkaunya. Beberapa detik kemudian Hyunsu sudah menangis dengan begitu lepas dan terisak. Ahyoung merasa sedih dan matanyapun ikut berkaca-kaca. Ahyoung sepertinya mulai mengerti apa yang dirasakan Hyunsu. “Hyunsu kangen appa, eomma. Apa appa masih bekerja? Kenapa begitu lama? Appa memang kerja dimana? Hyunsu ingin bertemu appa, eomma. Tidak bisakah kita meyusul appa? Hua..”
Dada Ahyoung sakit mendengar rentetan pertanyaan Hyunsu. Ahyoung tahu kalau Hyunsu mungkin sudah lama menyimpan semua pertanyaan itu karena saat ini Hyunsu terlihat sedikit lega dalam tangisnya yang masih lepas. Ahyoung mengeratkan pelukannya pada Hyunsu, mencoba menenangkannya. “Ssst.. Jangan menangis sayang. Kalau Hyunsu menangis eomma juga jadi sedih. Kalau kita sedih dan menangis, appa tidak akan tenang dalam melakukan pekerjaannya. Hyunsu sayang pada eomma dan appa kan? Jadi Hyunsu tidak boleh menangis. Hyunsu pasti masih ingat bukan pesan appa pada Hyunsu? Hyunsu harus tumbuh menjadi anak laki-laki yang kuat. Anak laki-laki yang kuat adalah anak laki-laki yang tidak cengeng. Hyunsu mengerti kan?” Hyunsu makin mengeraskan suara tangisnya. Untung saja kamar Hyunsu kedap suara sehingga suara mereka tidak mengganggu sekitarnya.
“Tapi eomma.. Hyunsu sangat-sangat merindukan appa. Lagipula, Hyunsu tidak yakin kalau appa mengingat kita disana. Kalau ingat, kenapa appa tidak merindukan kita dan pulang? Apakah appa tidak menyayangi kita lagi eomma?” Ahyoung mengusap pipi tembam Hyunsu yang basah dan mengecup dahinya hangat.
“Hyunsu, dengar eomma. Appa menyayangi kita seperti kita menyayangi appa. Hyunsu tahu kalau appa tidak pernah berbohong pada kita bukan? Karena itu appa mengajarkan Hyunsu untuk selalu jujur, bersikap baik, adil, berani dan lain-lainnya. Seperti yang appa contohkan pada Hyunsu, benar tidak?” Hyunsu mulai tenang dan mengangguk dalam pelukan Ahyoung. Pelukan merekapun refleks menjadi semakin erat.
“Iya eomma. Hyunsu tahu. Tapi diantara teman-teman Hyunsu kenapa hanya appa Hyunsu yang bekerjanya paling lama? Appa sebenarnya dimana eomma? Appa kerja apa?”
Hati Ahyoung mencelos mendengar pertanyaan Hyunsu. Akhirnya Hyunsu mempertanyakan pekerjaan Kyuhyun yang selama ini mereka tutupi bersama. Pekerjaan Kyuhyun adalah pekerjaan yang wajar. Malah terlampau keren—mungkin untuk bocah seumur Hyunsu.
Tapi, saat ini pekerjaan Kyuhyun itu masih menjadi rahasia. Jika Hyunsu mengetahuinya, Ahyoung dan Kyuhyun khawatir kalau rahasia itu menyebar melalui mulut Hyunsu. Dan sekarang apa yang harus Ahyoung lakukan? Mungkin ini sudah saatnya. Walaupun Hyunsu masih berumur 5tahun, Hyunsu terlihat pintar dan cepat tanggap. Ahyoung juga percaya kalau Hyunsu selalu menuruti kalimat Kyuhyun ataupun dirinya. Hyunsu jarang sekali nakal karena melanggar kalimat orang tuanya. Kenakalannya hanya seperti anak lain saja, kenakalan bocah laki-laki yang seringkali iseng ataupun malas. Tidak kenakalan dalam menjadi pembohong, curang, ataupun menyakiti temannya dengan sengaja.
“Hyunsu anak pintar bukan?” Hyunsu melihat wajah Ahyoung bingung. Kenapa jawaban eommanya berupa pertanyaan dan tidak berhubungan dengan pertanyaannya.
“Eomma akan menjawab pertanyaan Hyunsu. Tapi, Hyunsu harus berjanji sebagai laki-laki pada eomma ne? Seperti yang sering kamu lakukan dengan appa.” Tangisan Hyunsu sudah mereda sepenuhnya, hanya tersisa segukan beberapa kali dan Hyunsu mengangguk. “Iya eomma, Hyunsu janji.”
“Anak pintar. Begini, pekerjaan appa itu sebenarnya sangat keren. Teman-teman Hyunsu pasti iri jika mengetahui Kyuhyun appa begitu keren. Jadi, kita harus merahasiakan ini supaya teman-teman Hyunsu tidak iri. Hyunsu mengerti?”
“Lalu kalau mereka bertanya Kyuhyun appa bekerja apa, Hyunsu jawab apa eomma?”
“Jawab saja Kyuhyun appa sedang bekerja dalam misi rahasia seperti di film-film jagoan kalian, mengerti? Dan bilang pada mereka kalau kantor Kyuhyun appa jauh sekali. Jadi, appa akan sulit datang menghadiri acara disekolah Hyunsu karena appa sibuk dan butuh waktu lama untuk sampai ke sekolah Hyunsu.”
“Arasso eomma, Hyunsu mengerti. Bagaimana jika mereka bertanya seberapa jauh?”
“Jauh sekali. Karena kantor appa berada di negara lain. Ada lagi yang ingin Hyunsu tanyakan?”
“Anniyo. Hyunsu mengerti. Jadi, sebenarnya appa bekerja appa eomma?”
Ahyoung tersenyum tulus dan memeluk Hyunsu sebentar. “Janji dulu eoh?” Mereka saling menautkan jari kelingking sebagai bentuk ikatan janji. Dan Ahyoung membisikkan jawabannya ditelinga mungil Hyunsu.
**
7bulan kemudian.
7bulan kemudian.
“Appa!” Hyunsu melepaskan diri dari tubuh Ahyoung dan berlari kencang ke arah Kyuhyun. Hanya dalam seketika tangisnya pecah dan pipinya sudah basah ketika sampai dipelukan Kyuhyun. Ahyoung mempercepat langkahnya untuk mengikis jarak antara dia dan Kyuhyun dengan Hyunsu di gendongan Kyuhyun. Ahyoung ingin cepat-cepat bergabung dalam pelukan kerinduan itu.
Ya, beberapa bulan sudah berlalu dengan menyakitkan dan terobati begitu saja ketika melihat Kyuhyun dalam keadaan yang sangat sehat. Ahyoung begitu berterima kasih pada Tuhan karena mengabulkan doanya. Kyuhyun menurunkan Hyunsu dari pelukannya dan memeluk Ahyoung dengan sangat erat. Begitu erat sampai Ahyoung harus melepaskan pelukan Kyuhyun saat pasokan udaranya hampir habis. Kyuhyun kembali menggendong Hyunsu dan mereka melepaskan kerinduan dengan tangis dan tawa. Merasa begitu bahagia dengan kebahagian sederhana keluarga mereka.
“Oppa, aku sangat bersyukur kau dalam keadaan yang begitu sehat. Kau tahu? Hyunsu sangat sangat merindukanmu. Dan seringkali dia menangis sampai ketiduran—kelelahan dengan tangisnya.” Kyuhyun merangkul bahu Ahyoung dan mencium puncak kepalanya. Saat ini mereka dalam perjalanan pulang dan sedang berada didalam mobil. Hyunsu tertidur dipelukan Kyuhyun—Kyuhyun menahan berat Hyunsu di lengan kanannya yang kuat. Beberapa bulan Kyuhyun pergi, Kyuhyun tampak lebih sehat. Tapi, pipinya sedikit menjadi lebih tirus. Dan ototnya? Tentu semakin kencang. Terlihat jelas badan kekarnya dari balik kemeja bermotif khas tentara.
Ya, selama ini Kyuhyun bekerja sebagai Jendral dalam susunan pertahanan negaranya—Korea Selatan. Namun, karena kecerdasan dan keuletannya Kyuhyun dipercayakan untuk menjadi mata-mata di negara yang sedang menghadapi perang dengan Negaranya—Korea Utara.
Kedua negara yang bernama depan sama tersebut memang terkenal masih belum bisa bersatu karena masalah ideologi yang masih belum sepaham dan beberapa hal lainnya. Jadi Kyuyun harus pergi melakukan pengamatan secara langsung pada perang yang dihadapi KorSel-KorUt tersebut. Perang itu memang tidak dilakukan dengan mencolok karena itu bukanlah perang yang sesungguhnya. Tapi, perang berlomba-lomba bersaing dalam segala bidang. Dan ada hal yang harus diketahui dari Korea Utara dan tidak bisa didapatkan dalam waktu cepat karena memerlukan proses dan tidak memang sulit menembus dinding pertahanan Korea Utara dan tentu saja sulit barang untuk kembali ke Korea Selatan. Jika misi ini tidak berhasil, tentu taruhannya nyawa. Dan Kyuhyun dipercaya menjadi salah seorang yang menjalani misi ini. Syukurnya misi ini berhasil walaupun tidak semulus yang direncanakan.
Kedua negara yang bernama depan sama tersebut memang terkenal masih belum bisa bersatu karena masalah ideologi yang masih belum sepaham dan beberapa hal lainnya. Jadi Kyuyun harus pergi melakukan pengamatan secara langsung pada perang yang dihadapi KorSel-KorUt tersebut. Perang itu memang tidak dilakukan dengan mencolok karena itu bukanlah perang yang sesungguhnya. Tapi, perang berlomba-lomba bersaing dalam segala bidang. Dan ada hal yang harus diketahui dari Korea Utara dan tidak bisa didapatkan dalam waktu cepat karena memerlukan proses dan tidak memang sulit menembus dinding pertahanan Korea Utara dan tentu saja sulit barang untuk kembali ke Korea Selatan. Jika misi ini tidak berhasil, tentu taruhannya nyawa. Dan Kyuhyun dipercaya menjadi salah seorang yang menjalani misi ini. Syukurnya misi ini berhasil walaupun tidak semulus yang direncanakan.
“Benarkah? Pasti sulit bagimu untuk memberinya pemahaman dalam beberapa bulan terakhir. Mianhae chagiya.”
“Anniyo. Jangan meminta maaf. Ini memang sudah tugas mu dan aku bangga dengan pekerjaanmu. Kau begitu hebat dalam segala hal dan aku berkewajiban mendampingimu dalam keadaan apapun. Dalam suka ataupun duka, kau ingat?”
**
Saeryung side.
Saeryung side.
Mataku berkaca-kaca dan Kyuhyun mempererat pelukan satu tangannya padaku. Aku senang karena semuanya berjalan seperti seharusnya. Membuatku terharu dan menumpahkan semua emosiku dalam beberapa bulan terakhir dipelukan Kyuhyun. Kyuhyun mengelus bahu dan rambutku untuk menenangkanku. Tapi tidak memberhentikanku menangis. Aku tahu dia membiarkanku melampiaskan semua perasaanku padanya. Aku tahu dia juga sedih.
Tapi, dia seorang Cho Kyuhyun. Prajurit hebat kebanggan negara yang begitu kuat dan cerdas. Dia tidak mudah menangis—itu sudah menjadi didikkannya sejak kecil karena appa Kyuhyun juga seorang Jendral. Keluarga Cho hanya melakukan pekerjaan secara turun menurun untuk mengabdikan diri pada negara. Begitu hebatnya prinsip hidup mereka. Sekali lagi aku bangga dan aku akan menjadi kekuatan yang selalu menyongsong Kyuhyun dibelakangnya. Menyemangatinya di balik layar—ani, medan perang. Dan tentu selalu mendoakannya, meminta Tuhan untuk selalu melindunginya. Karena kami—aku dan Hyunsu—masih sangat membutuhkannya untuk menjadi pelindung dan pemimpin keluarga kecil kami.
Setelah sampai rumah aku sudah menyiapkan sedikit kejutan untuk Kyuhyun. Pesta kecil yang dihadiri keluargaku, keluarga Kyuhyun, dan sahabat-sahabat kami. Aku sudah mempersiapkan ini semua sejak beberapa hari terakhir dan kurasa semuanya lancar. Aku merasa kalau Tuhan sangat mencintaiku. Aku bahagia.
“Kyu, akhirnya kau kembali. Aku tahu kau pasti berhasil.” Siwon oppa memberikan pelukan hangat pada Kyuhyun. Tak lupa, istrinya—Hwang Miyoung—mendampingi oppaku yang tampan itu.
“Terima kasih Hyung.” Kyuhyun tersenyum bangga dan sopan. Aku terkekeh melihat mereka sedikit canggung karena lama tidak bertemu. Padahal, mereka akan terlihat begitu konyol jika sudah memulai pertengkarang saling mengejek—yah seperti anak kecil. Kyuhyunku memang memiliki sifat kekanakan yang seringkali ditekannya agar tidak terlalu menonjol. Apalagi didepan keramaian seperti ini, dia akan menjadi namja yang sangat cool.
“Ya Kyu! Kau hebat kembali dengan selamat! Aku sudah dengar semuanya, tapi kenapa kau tidak menceritakan misimu dari awal padaku?” Lee Hyukjae salah satu teman dekat kami menghampiri kami dan memeluk aku dan Kyuhyun cepat dan bergantian.
“Jika aku menceritakan padamu semua akan gagal dari sebelum aku menjalankannya, pabo.” Kami spontan tertawa melihat tampang pabo Hyukjae. Dia memang yang terbawel diantara kami—humoris lebih tepatnya. Tapi, dia juga dikenal sebagai namja yang suka bermain yeoja, playboy.
Hyukjae ingin menyahuti lagi kalimat Kyuhyun tapi terpotong dengan kalimat namja lainnya yang mendekat pada kami, Lee Donghae. Pembawaan namja itu begitu tenang, selalu membuatku terpesona. Sangat kontras dengan sikap konyol Hyukjae, sikap cuek Siwon, dan sikap kekanakkan Kyuhyun. Lee Donghae dewasa luar dalam kurasa. “Selamat Kyu, kau hebat. Aku senang melihatmu baik-baik saja.”
Kyuhyun mengencangkan rangkulannya di pinggangku saat mendengar suara Donghae. Dia mengirimkan sinyal padaku kalau aku tidak boleh terpesona untuk kesekian kalinya pada Donghae. Aku terkekeh lagi menyadari hal itu. Kyuhyunku yang kekanakkan mengeluarkan sifat aslinya padaku, hanya padaku.
“Senang juga melihatmu sehat, Hae. Kau terlihat bersemangat.”
“Ya, Istriku, Sohee sedang mengandung anak kedua kami.” Aku, Kyuhyun, Hyukjae—juga mungkin kedua pacarnya—, Siwon, Miyoung eonni ikut gembira mendengar kabar bahagia tersebut. Bertambah lagi alasan kami berbahagia disini. Dan ucapan selamat membanjiri pasangan Donghae-Jinah dalam sekejap. Kami berbincang sampai larut malam. Membicarakan bisnis showroom baru milik Siwon oppa yang mungkin akan sukses seperti rentetan bisnis Siwon oppa yang sebelum-sebelumnya, lalu Hyukjae menginformasikan beberapa pendatang baru di dunia hiburan yang berada dibawah naungan agensi miliknya—walaupun kurang penting kami tetap menanggapi dengan candaan. Dan aku, Miyoung eonni dan Jinah berbicara tentang anak-anak kami dan bertanya tentang keluhan kesehatan pada Donghae yang bekerja sebagai dokter. Dan setelahnya Kyuhyun dan aku menghampiri Ahra eonni—kakak Kyuhyun—beserta suami dan anak-anaknya. Berbincang sebentar dengan eomma Kyuhyun dan aku menyapa kedua orang tuaku dengan memberikan mereka pelukan hangat. Menjanjikan pada mereka kalau aku dan Kyuhyun akan berkunjung di akhir pekan untuk melakukan makan malam sederhana yang dulu hampir rutin kami lakukan. Dan minggu berikutnya akan kami lakukan di rumah eomma-appa Kyuhyun, bersama Ahra eonni dan keluarganya. Sayangnya, appa Kyuhyun sudah meninggal dalam perang besar beberapa tahun silam sehingga tidak bisa hadir diantara kami. Namun, semua itu tertutup dengan kami yang saling berbagi kebahagiaan.
Ahyoung side end.
**
Setelah selesai merapihkan sisa-sisa pesta, Ahyoung kembali ke kamarnya dan melihat Kyuhyun baru keluar dari kamar mandi. Muka Ahyoung memerah ketika Kyuhyun menatapnya tajam. Kilatan gairah tiba-tiba muncul dan terhubung diantara mereka. Tapi, Ahyoung cepat tersadar dan langsung masuk ke kamar mandi. Menenangkan debaran jantungnya.
Setelah selesai merapihkan sisa-sisa pesta, Ahyoung kembali ke kamarnya dan melihat Kyuhyun baru keluar dari kamar mandi. Muka Ahyoung memerah ketika Kyuhyun menatapnya tajam. Kilatan gairah tiba-tiba muncul dan terhubung diantara mereka. Tapi, Ahyoung cepat tersadar dan langsung masuk ke kamar mandi. Menenangkan debaran jantungnya.
Apa yang terjadi? Kenapa aku bertingkah seperti seorang perawan yang baru akan melakukan malam pertamanya? Cho Ahyoung bodoh.
Ahyoung mandi sambil menjernihkan pikirannya dan memberikan perawatan kilat pada tubuhnya. Dia tahu setelah ini dia akan melepas rindu dengan Kyuhyun. Dan dia harus menyenangkan Kyuhyun malam ini. Memberikan hadiah kecil terakhir di hari ini.
Ahyoung keluar dari kamar mandi dengan tubuh hanya ditutupi baju handuk. Dia tidak memakai apapun lagi dibalik baju handuk itu karena tak sempat mengambil baju untuk dipakai sebelumnya. Kyuhyun sudah terlihat nyaman dikasur dengan posisi tubuh tengkurap—membelakangi Ahyoung tentunya. Ahyoung memutuskan untuk memakai polesan tipis diwajahnya dahulu sebelum tidur yang merupakan kebiasaannya. Setelah itu dia mengeringkan rambut basahnya dengan santai dan suara siulanpun terdengar—kebiasaan Ahyoung lainnya. Hingga ketika Ahyoung sedang berkonsentrasi mengeringkan rambutnya tiba-tiba sebuah tangan melingkar di perutnya.
Ahyoung tersentak kaget dan langsung melihat ke kaca didepannya. Itu Kyuhyun dan Ahyoung menghembuskan napasnya lega—sejenak dia memikirkan hal yang tidak-tidak, seperti hantu misalnya?!
“Aku tersiksa menunggumu sayang. Kau terlalu lama.” Ahyoung tersenyum mendengar keluhan Kyuhyun yang seperti bocah—sifat dasarnya yang selalu ditujukan kepada orang-orang yang dipercaya Kyuhyun. “Benarkah? Kukira kau sudah tidur.”
“Ya! Bagaimana aku bisa tidur kalau aku bahkan tidak bisa berkonsentrasi saat mendengar suara air di kamar mandi dengan kau didalamnya? Membuat fantasiku liar.” Kyuhyun menggeram dan Ahyoung tersenyum, dia tahu Kyuhyun adalah orang yang tidak suka bertele-tele dan sekarang Ahyoung sedang menguji namja bermarga Cho itu. “Ah, kau menjadikanku objek fantasi liarmu? Aku begitu merasa terhormat.”
Aku menyeringai saat Kyuhyun mulai menghisap bagian kanan bahuku yang terekspos karena rambutku disampirkan ke sis kiri semuanya. Dia begitu berkonsentrasi dan aku masih ingin menggodanya, aku menunjukkan sikap menunggu balasan kalimatku.
“Sudah sepantasnya sayang. Mereka bilang, aku kuat? Tapi aku selalu merasa lemah jika dihadapkan denganmu. Kau Aprodhite ku.” Kyuhyun menunjukkan sikap menyerah dan frustasi dengan meremas perut Ahyoung lembut. Ahyoung membalikkan badannya. Menangkup wajah Kyuhyun.
“Kau selamanya menjadi suamiku yang kuat. Benarkah kau lemah terhadapku? Kau selalu bisa menahanku sampai pagi buta jika soal ranjang. Itu yang kau bilang lemah Cho?” Ahyoung mencibir, begitu jujur dan terbuka. Kyuhyun suka sifat Ahyoung yang satu itu.
Kyuhyun terkekeh dan membawa Ahyoung dalam gendongannya. “Berhenti bicara. Aku sudah tak bisa menunggu lagi. Konsentrasiku hancur.” Ahyoung pasrah dalam kukungan Kyuhyun. Melingkarkan tangannya di sekitar leher Kyuhyun yang begitu gagah.
**
Ahyoung side.
Aku mendengar Kyuhyun menggeram dalam ciuman kami. Kyuhyun tak bosan-bosan mencium bibirku sedari tadi. Benar-benar Cho Kyuhyun yang sedang meluapkan emosinya—rasa rindu—dan aku merasakannya dengan jelas.
Baju handukku sudah tak tahu kemana dan Kyuhyun sudah menanggalkan seluruh pakaiannya dengan cepat. Membuatku bergairah melihatnya. Aku merasa sudah sangat lama tidak bercinta dengan Kyuhyun, kami seperti akan mengulang malam pertama kami.
Tangan Kyuhyun bergerak lincah menyelusuri seluruh permukaan tubuhku. “Ahh.. Kyu-“
Aku mendesah saat bibir tebalnya menciptakan serangan dileherku. Meninggalkan jejak kemerahan, tanda kepemilikannya. Kedua tangannya menangkup payudaraku. Meremasnya dalam tempo teratur dan sesekali menjepit putingnya. Membuat bagian diantara pahaku basah.
Semakin lama ciuman Kyuhyun semakin turun. Dia menghisap payudaraku seperti bayi kelaparan. Menggigit-gigit lembut dan menghisap keras membuatku memohon padanya untuk berbuat lebih. “Kyu- ahh.. jebal..”
Aku merasakan senyum miring Kyuhyun ditubuhku. Aku tahu dia menggodaku. Aku pasrah dengan perlakuannya hanya bisa menunggu dan meremas rambutnya gemas. Aku ingin dia berbuat lebih.
“Masih seperti dulu.. tubuhmu meresponku dengan baik dan.. begitu menggairahkan.” Aku mengabaikan kalimatnya—kalah akan gairah yang meluap. Hingga kurasakan jarinya memasuki tubuh bawahku menggesek dengan tempo yang semakin meningkat cepat. Dia menatapku, mengamati setiap ekspresiku saat terangsang membuatku merasa semakin tebuka dan merona karena gairah dan sedikit malu. Tak dapat kupungkiri rasa malu itu masih tetap ada walaupun kadarnya sedikit.
Aku menggeliat dan Kyuhyun menahan kakiku dengan kakinya. Aku merasa sangat rentan dan aku membutuhkan pegangan. Aku mencengkram erat kedua bahu Kyuhyun. Meminta pertolongan atas perbuatannya sendiri padaku. Aku akan klimaks dan Kyuhyun malah melambatkan temponya, membuatku mengerang dan merintih. “Kyu-a.. aku jangan.. menggodaku.. jeballhhss..”
“Aku ingin melihat ekspresi terangsang mu lebih lama lagi. Kau sangat sexy sayang, mengagumkan.” Kyuhyun tetap tidak mempercepat gerakannya membuatku menyerah untuk memohon dan mendesah tak kenal lelah. Padahal suaraku sudah mulai serak.
Kyuhyun menyadarinya dan mempercepat gerakan jarinya dan tak lama aku klimaks. Aku merasa sangat lemas karena klimaks yang begitu banyak—akibat dari Kyuhyun yang menunda klimaksku beberapa kali. “Cantik. Kau yang tercantik dari apapun yang pernah kulihat.”
Aku masih menetralkan napasku saat Kyuhyun membawaku ke pangkuannya. Kami akan bercinta dalam posisi duduk. Dengan cepat Kyuhyun menyatukan kami dan aku hanya bersandar dilehernya. Mengecup ringan dengan sisa-sisa tenagaku. Dia menggeram. “Aghhrr.. begitu sempit.. begitu menjepitku hngghh..”
Aku memeluk perutnya erat. “Disini. Didalammu adalah tempat yang paling ingin ku datangi dari tempat manapun.” Emosiku meluap mendengar kalimatnya. Dia terlihat begitu jujur dan kalimatnya menunjukkan kelegaan yang mendalam. Aku menitikkan air mataku dalam diam. Dia menyadarinya dan mengusap punggungku, memberiku energi. “Andai aku bisa, aku ingin selamanya berada didalammu. Begitu nyaman dan tenang.”
Kalimat Kyuhyun tersampaikan begitu jelas padaku. Aku mengerti kalau dia merasa ingin tenang dalam hidupnya. Aku tahu dia merindukan kenyamanan, bukan kebisingan perang. Aku tahu dia begitu tulus mengatakannya dan begitu memuja diriku, menyadarkanku pada kenyataan kalau dia memang sangat membutuhkanku. Kyuhyunku yang kuat dan keras membutuhkan kelembutan dan kenyamanan juga. Dan aku bahagia bisa memberikan hal—yang menurutku begitu sederhana—padanya dengan setulus hatiku. Sejenak kami merasakan keheningan karena sibuk dengan pikiran masing-masing.
Tapi itu tidak berlangsung lama ketika tiba-tiba Kyuhyun menyentakkan kejantanannya padaku. Membuatku tersadar dari lamunanku dan emosiku membuncah lagi dengan cepat. “Berhenti menjadi gadis melankolis nyonya Cho. Suamimu ini masih sangat membutuhkanmu.”
Aku terkekeh mendengar celotehan ringannya. Kyuhyunku yang begitu khas. “Bergeraklah. Puaskan aku sekarang.” Kalimatnya seperti sebuah titah. Begitu memerintah dan dia kembali menjadi Cho Kyuhyun kuat dan dominan. Aku menurutinya. Bergerak dengan caraku. Menjepit kejantanan Kyuhyun begitu kuat dan menumpukan tanganku di bahunya. Kedua lengannya di panggulku. Sesekali meremas pantatku.
“Ohh.. ya.. agh kau begitu menjepit..akh.. begitu nikh..mat sayanghh” Aku semakin bersemangat dibuatnya. Matanya menatapku tajam dan bibirnya sedikit terbuka. Tuhuhnya basah oleh peluh. Kyuhyunku yang menggairahkan. Aku menghisap adam apple nya membuatnya meleguh keras. Pegangannya di panggulku mengencang dan dia yang mengambil alih tempo—menjadi sangat cepat.
“Ah.. Cho Ahyoung.. Kau begitu cantik dalam posisi ini. Nggh..” Aku terus memompa dan tidak berpikir untuk membalas kalimatnya. Tak lama Kyuhyun menghentakkan kejantanannya begitu dalam dan kami klimaks bersama. Aku merasakan sperma Kyuhyun yang begitu banyak dan hangat di rahimku. Membuatku terkulai lemas di dadanya. Dia memelukku erat.
“Terima kasih sayang. Kau terlihat begitu lelah. Ayo tidur dan lanjutkan besok.”
Aku mengangkat wajahku menatapnya garang. “Hanya malam hari, oke? Aku tidak mau mengambil resiko Hyunsu memergoki kita.” Kyuhyun membaringkan tubuh kami dan menjadikan lengan kirinya sebagai bantalku. Tangan kanannya memeluk perutku posesif.
“Kalau begitu kau harus tidur banyak di siang hari. Karena malamnya aku tidak akan membiarkanmu tidur sedikitpun, eotte?”
Aku tidak jadi menyanggah kalimatnya karena dia mengecupku dan membuatku terdiam. Matanya melebar dan senyum memohonnya dikeluarkan—puppy eyes oh Tuhan, “Berhenti berekspresi seperti itu”
Aku mencela dan dia tersenyum lebar. Tahu kalau aku tak mungkin menolak permintaannya. Entahlah, hari ini begitu melelahkan dan aku terlalu malas untuk berdebat. Aku menyurukkan wajahku ke dadanya. Kyuhyun mengerti, “Tidurlah.”
Aku mencela dan dia tersenyum lebar. Tahu kalau aku tak mungkin menolak permintaannya. Entahlah, hari ini begitu melelahkan dan aku terlalu malas untuk berdebat. Aku menyurukkan wajahku ke dadanya. Kyuhyun mengerti, “Tidurlah.”
Aku mengangguk.
“Terima kasih nyonya Cho sudah mau menjadi istri dan ibu yang baik untukku dan Cho Hyunsu.”
“Kalian sumber kebahagiaanku, oppa. Prioritas dalam hidupku.” Kami sama-sama tersenyum dan tak lama aku langsung menjelajahi alam mimpi. Kurasa Kyuhyun pun begitu cepat menyusul.
End.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar