Author : Cho KYupi
Title : My Bet Girl
Category : NC21, Yadong, Romance, Oneshoot
Cast :
Cho Kyuhyun
Lee Minsook
Cho Kyuhyun
Lee Minsook
Annyeonghaseyo~ Ehem, ini ff perdana saya. Dari dulu sebenernya pengen banget nyoba buat ff terus dipost-in ke sini. Semoga aja admin mau berbaik hati memberi kesempatan saya buat nitip karya amatiran saya di blog ini hehe.
Mohon maaf kalo hasilnya mengecewakan ya. Ini ff oneshoot yang cukup panjang dan mungkin akan sangat membosankan. Jadi, yang merasa gak suka jangan dipaksain buat baca ya.
Saya siap menerima kritikan kok, entah itu pedas, manis, asem, atau pahit -_-“). Saran dari readers juga boleh. Saya masih amatiran dan saya pikir ff ini masih di bawah standar. Jadi, mohon bantuannya. Salam kenal juga ya, readers. Terima kasih. Selamat membaca! (^_^)
.
—oOo—
.
Perasaan bahagia kini meluap, melingkupi seluruh relung hati. Rongga dada terasa sesak karena gejolak yang tak tertahankan. Hati seorang lelaki tampan meledak kegirangan. Sepasang manik obsidiannya memancarkan sinar kebahagiaan yang terlihat begitu memukau.
Perubahan status yang telah menjelmanya menjadi seorang suami membuat hidup lelaki tampan itu terasa lebih sempurna. Keberhasilannya meminang seorang gadis yang begitu ia puja meng-angkuh-kannya. Membuatnya berspekulasi bahwa dirinya telah meraih seluruh dunia. Dunia seakan ada dalam genggamannya.
Usai menjalani pemberkatan sakral, kedua mempelai yang telah resmi menyandang status sebagai sepasang suami istri itu langsung menempati rumah baru mereka. Setibanya di depan rumah, sang suami yang keluar terlebih dahulu dari mobil segera menggendong sang istri ala pengantin.
Dengan langkah pasti memasuki rumah masa depan mereka. Melewati ruang utama, menaiki tangga hingga menuju sebuah kamar megah yang akan segera mereka huni. Kamar yang akan menjadi saksi bisu kisah rumah tangga baru mereka kelak.
“S–sunbae…” Cukup lama terkurung dalam keheningan, suara lirih dari bibir mempelai perempuan terdengar selang beberapa detik. Bermaksud menegur sang suami.
Bukan apa-apa. Ia hanya merasa risih karena selama sang suami menggendongnya hingga setibanya dalam kamar, sepasang manik obsidian itu tak pernah lepas memenjarakan sepasang manik beningnya. Apalagi dengan posisi mereka yang tanpa jarak dan cukup intim. Sang suami yang duduk di tepi ranjang dengan dirinya yang berada dalam pangkuan sang suami. Masih dalam balutan baju pengantin.
Tak ada jawaban dari bibir sang lelaki. Paras tampan penuh pesonanya masih tak bosan menatap paras cantik sang istri dengan lekat dan sarat kekaguman. Sepasang tangan kokohnya tetap bertahan melingkupi pinggang ramping sang gadis pujaan, terlihat begitu posesif.
Namun tak lama kemudian sebelah tangannya terangkat, menggapai paras manis sang istri. Punggung jemari panjangnya memberikan sentuhan lembut pada salah satu pipi halus sang istri. Semburat merah yang terbit di kedua belah pipi sang istri membuatnya tersenyum lembut.
“Sunbae~” Sekali lagi gadis itu bersuara. Tanpa sadar kelopak matanya mengatup seiring sentuhan lembut dari sang suami. Kali ini sang suami merespon.
“Iya, Minsook-ah.” Jawab sang suami sangat halus namun mampu membuat hati Minsook, sang istri berdesir hebat.
Minsook menggigit bibir bawahnya seraya menundukkan kepala. Perlahan membuka mata dengan hati berdebar. Jemari lentiknya memainkan kancing kemeja putih yang tengah dikenakan suaminya pertanda gugup.
“Jangan menatapku seperti itu…” Ucap Minsook. Volume suaranya sangat rendah namun sang suami mendengarnya dengan baik.
Senyuman dari bibir lelaki tampan itu semakin melebar. “Memangnya kenapa?” Tanya sang suami seraya mengangkat dagu Minsook lembut. Pandangan mereka kembali bertemu.
Seketika tubuh Minsook melemas. Sepasang manik elang itu sungguh mampu mengacaukan seluruh sistem syaraf pada tubuhnya. Jantungnya berdegup berkali-kali lipat lebih kencang dari keadaan normal. Tanpa sadar sepasang tangan lentiknya berpegang erat di kedua bahu tegap sang suami. Takut tubuhnya akan terjungkal ke bawah jika tidak berpegangan.
“A–aku…” Minsook tak berhasil menyelesaikan ucapannya karena tindakan tiba-tiba dari sang suami. Menekan lembut keningnya membuat hidung mancung mereka saling bersentuhan. Sepasang manik beningnya kembali terpejam. Merasakan napas hangat mereka yang saling beradu.
“Kau sudah menjadi istriku dan aku suamimu. Tak perlu merasa risih.” Suami Minsook, yang bernama lengkap Cho Kyuhyun itu memberikan gesekan-gesekan lembut pada hidung Minsook. Membuat istrinya itu merasa geli.
Tak mampu lagi menahan gejolaknya, sebelah tangan Kyuhyun merambah ke belakang leher Minsook. Meraih tengkuk halus sang istri, mengelusnya dengan gerakan seduktif. Dan detik berikutnya menariknya untuk mempertemukan kedua belah bibir mereka.
“Sunbae!”
Hampir saja bibir keduanya saling bertemu namun semuanya musnah. Seruan Minsook menginterupsi Kyuhyun.
Kyuhyun merasa gemas. “Ada apa lagi, Sookie-ya?” Suara Kyuhyun terdengar berat. Sangat kentara jika dirinya tengah mati-matian menahan hasrat yang sudah tak terbendung.
Minsook sedikit kikuk. “A–apa aku boleh ke kamar mandi? Aku ingin mengganti baju. Aku sudah tak nyaman dengan baju pengantin ini. Aku juga ingin mandi.” Ujar Minsook berkilah, mencoba melepaskan diri dari Kyuhyun.
Kyuhyun menatap Minsook seolah tak percaya. Kenapa istrinya itu tega sekali? Apa Minsook tak tahu saat ini hasratnya tak dapat diajak kompromi. Padahal ia pikir semuanya akan berjalan lancar sesuai kehendaknya. Namun ternyata sang istri tidak peka terhadap perasaannya.
Beberapa saat Kyuhyun terdiam. Menghembuskan napas sebentar. “Hm… Baiklah. Mandilah segera.” Ucap Kyuhyun sedikit tidak rela. Ia tidak ingin egois, memaksakan diri untuk segera ‘menyentuh’ sang istri.
Kyuhyun juga tak ingin terburu-buru untuk melakukannya. Ia ingin semuanya berjalan sesuai dengan keinginan dari mereka masing-masing. Mungkin Minsook belum siap. Dan sepertinya ia harus bersabar.
Minsook tersenyum manis. “Terima kasih, sunbae.” Gadis cantik itu turun dari pangkuan Kyuhyun. Berdiri lalu membalikkan tubuh dan menyeret kakinya menuju kamar mandi.
Sementara itu Kyuhyun menatap punggung Minsook nanar. Sempat melihat senyum manis dari istrinya itu membuat hatinya berdebar hebat. Sebelum Minsook berhasil masuk kamar mandi, Kyuhyun beranjak dari ranjang lalu dengan gerakan cepat memeluk istrinya itu dari belakang.
Minsook terkejut bukan main. Tubuhnya terpaku dalam pelukan lengan kokoh Kyuhyun. Ia dapat merasakan hembusan napas berat di sekitar kulit leher dan bahunya yang terbuka.
“S–sunbae kenapa?” Tanya Minsook yang merasakan napas Kyuhyun sedikit terengah. Bulu kuduknya meremang.
Kyuhyun membenamkan wajahnya di antara lekukan leher dan bahu Minsook. Menghirup aroma sang istri dalam-dalam. “Tidak apa-apa…” Kyuhyun menggelengkan kepala, membuat gesekan lembut dari bibir dan hidungnya di ceruk leher Minsook.
Untuk ke sekian kalinya Minsook menggigit bibir bawahnya. Tubuhnya lagi-lagi melemas. Apa Kyuhyun sedang berusaha mencumbunya?
“Maaf. Aku lepas kendali.” Ucap Kyuhyun seraya melonggarkan pelukannya. Membebaskan tubuh Minsook dengan enggan. “Mandilah. Aku juga akan mandi di kamar mandi bawah.”
.
—oOo—
.
Setelah menutup pintu kamar mandi, Minsook menyandarkan tubuhnya di balik pintu bercat putih itu dengan perasaan tak menentu. Sebelah tangannya tampak memegang bagian dada, tepat di mana jantungnya bersarang. Degupan kencang dan tak beraturan sangat jelas terasa. Napas gadis itu pun memburu, seakan baru saja mengikuti perlombaan lari maraton.
Beberapa saat setelah itu, sepasang kaki mungilnya mengayunkan langkah untuk mendekat pada keberadaan wastafel. “Ya Tuhan… Ada apa denganku?” Ucap Minsook pada bayangan mayanya dalam cermin. Tangannya memegangi kedua pipi yang telah berani mempermalukannya di hadapan Kyuhyun tadi.
“Apa yang harus aku lakukan?” Gumam Minsook bimbang. Masih tetap dalam posisinya, gadis itu mulai melepas gulungan rambutnya. Membiarkan rambut panjang nan halusnya tergerai begitu saja.
Tak dapat terbantahkan jika Minsook memiliki kecantikkan yang tak biasa. Meskipun sederhana namun paras gadis itu terlihat begitu indah. Cantik dalam diri gadis bermarga Lee itu bukanlah dibuat-buat atau hanya bentuk manipulasi dari berbagai macam make up yang ia gunakan. Buktinya setelah ia me-remover seluruh make up di wajahnya tak mengurangi sedikitpun kadar kecantikannya. Justru tanpa ber-make up paras cantiknya terlihat lebih natural dan tak berlebihan.
‘Kyuhyun sunbae! Berhentilah membuatku gila! Berhentilah melakukan hal yang membuatku sulit bernapas!’ Jerit batin Minsook histeris.
Minsook tidak munafik jika hatinya sangat bahagia. Ia seakan diterbangkan ke atas awan dengan sikap manis Kyuhyun barusan. Namun ia tidak bisa begitu saja menyimpulkan bahwa Kyuhyun bersikap seperti itu karena rasa cinta.
Seraya memejamkan mata, Minsook menggelengkan kepala. “Tidak! Aku tidak boleh terlalu percaya diri jika sikap baik Kyuhyun sunbae padaku karena dia… mencintaiku.” Minsook terus bergelut dengan dirinya sendiri.
“Yah! Kau harus ingat Lee Minsook, bahwa kau hanyalah barang taruhan yang telah Kyuhyun sunbae menangkan. Hanya sebatas itu. Tak lebih!” Gadis itu menghembuskan napas kasar.
Minsook terus men-sugesti dirinya bahwa ia tak boleh terlalu berharap pada sesuatu yang mustahil. Ia tak ingin membangun harapan kosong dalam kehidupannya. Sakit rasanya jika ternyata semuanya hanya fatamorgana belaka.
Minsook harus menyiapkan seluruh hati dan pikirannya agar tak mudah terjerat dalam pesona seorang Cho Kyuhyun. Iya. Harus begitu jika ia tak ingin terjebak dalam lubang kekecewaan.
.
—oOo—
.
Mandi dalam waktu yang bersamaan, namun Kyuhyun lebih cepat selesai dari Minsook. Lelaki itu sudah kembali ke kamar. Sementara sang istri nampaknya masih belum menampakkan diri dari kamar mandi. Bahkan hingga dirinya selesai mengenakan piyama.
Penasaran dengan apa saja yang Minsook lakukan dalam kamar mandi sampai membuatnya menunggu lama, akhirnya Kyuhyun memberanikan diri mengetuk pintu kamar mandi. “Minsook-ah! Apa kau belum selesai?” Seru Kyuhyun dari balik pintu.
“Ah! I–iya, sunbae. S–sebentar lagi.” Jawab sang istri, terdengar agak panik. Entahlah. Itu yang indera pendengaran Kyuhyun tangkap dalam nada suara istrinya tadi.
Kyuhyun menghela napas. “Jangan lama-lama berada di kamar mandi, Sookie-ya~ Kau bisa sakit karena kedinginan.” Nasihat Kyuhyun diliputi rasa khawatir.
Sekali lagi Kyuhyun menghela napas karena tak mendapat respon lagi dari Minsook. “Hm… Minsook-ah, aku ingin keluar sebentar. Jika kau mencariku, aku berada di dapur. Aku akan segera kembali.” Ucap Kyuhyun dan kali ini kembali mendapat respon dari dalam kamar mandi.
“Iya, sunbae!”
.
—oOo—
.
Sekitar seperempat jam kemudian, Kyuhyun kembali dari dapur membawa dua gelas susu coklat hangat ke dalam kamar. Untuk diminumnya dan sang istri. Lelaki tampan itu membuka pintu kamar dengan raut sumringah.
“Minsook-ah…” Volume suara Kyuhyun berangsur rendah ketika retina matanya segera menangkap sosok gadisnya sudah berbaring lelap di atas ranjang. Senyum menawannya pun memudar seketika.
Perlahan Kyuhyun mendekat, lalu meletakkan nampan berisi dua gelas susu buatannya di atas nakas samping ranjang. Untuk ke sekian kalinya lelaki itu menghela napas. “Haah~ Ternyata kau sudah tidur, Minsook-ah.” Ucapnya sedikit kecewa.
Kyuhyun duduk di tepi ranjang. Menatap wajah terlelap Minsook dengan intens. Dan ia baru menyadari jika ada sesuatu yang mengganjal. Sepertinya Minsook tidak benar-benar tidur. Ia curiga jika istrinya itu hanya berpura-pura tidur.
Tangan di balik selimut yang menutupi tubuh Minsook sebatas dada terlihat bergerak kecil. Bahkan mata terpejam gadis itu sesekali bergerak gelisah.
“Minsook-ah. Apa kau benar-benar sudah tidur?” Tanya Kyuhyun seraya mengusap surai hitam Minsook lembut. Namun nihil. Tak ada respon.
Kyuhyun yakin jika Minsook belum tidur. Entahlah. Yang jelas ia bisa merasakannya. “Aku takkan memaksamu untuk ‘melakukannya’ malam ini, Sookie-ya~ Jadi, tenanglah… Aku akan menunggumu sampai kau merasa siap.” Bisik Kyuhyun tepat di hadapan wajah manis Minsook. Mungkin itu merupakan alasan istrinya bersikap seperti ini.
“Bangunlah~ Aku sudah membuatkan susu hangat untukmu.” Pinta Kyuhyun masih tak bosan menatap paras cantik Minsook lekat. Jemarinya mengelus pipi halus sang istri penuh kelembutan.
Dan Bingo! Minsook membuka kelopak matanya ragu-ragu. “S–sunbae~ Maafkan aku… B–bukan maksudku–”
“Ssstt…” Kyuhyun segera meletakkan jari telunjuk di atas bibir Minsook membuat ucapan istrinya itu terputus. “Aku tidak apa-apa. Tak perlu meminta maaf.” Ucap Kyuhyun seraya menyunggingkan senyum lembut membuat Minsook merasa tenang dan nyaman.
Minsook mengerjapkan mata beberapa kali. Sepertinya ia harus memiliki jantung cadangan untuk mewaspadai jantungnya yang kini berdetak di luar kewajaran. Bahkan seluruh organ syarafnya seakan mati rasa. Suaminya sungguh berbahaya. Hanya dengan tersenyum saja efek yang ditimbulkan luar biasa dahsyat. Bagaimana yang lain-lain? Oh Tuhan!
Kyuhyun mengambilkan susu untuk Minsook selagi istrinya itu bangkit dari berbaringnya. “Minumlah~” Titah Kyuhyun seraya mengulurkan segelas susu coklat yang masih terasa hangat pada sang istri.
Minsook menerimanya dengan hati berdebar. “T–terima kasih.” Minsook merasa malu. Seharusnya ia sebagai istri yang melakukan hal itu. Membuatkan susu untuk Kyuhyun. Namun yang terjadi justru sebaliknya. Ia merasa menjadi istri yang sangat payah.
Minsook segera meminum susu itu. Begitu juga Kyuhyun. Mereka sama-sama meneguk susu itu hingga tetes terakhir.
“Sudah?” Ucap Kyuhyun melihat gelas dalam genggaman Minsook sudah kosong, lalu istrinya itu mengangguk kecil.
Kyuhyun tersenyum lembut. Sebenarnya ia merasa gemas dengan sikap Minsook. Ingin rasanya ia mencium gadis itu. Namun ia belum berani mengingat sikap yang sempat istrinya itu tunjukkan tadi. Ia takut Minsook belum siap menerimanya. Lagi-lagi ia harus menahan hasratnya mati-matian.
“Ya sudah. Sekarang tidurlah…” Kyuhyun mengambil gelas kosong itu dari Minsook lalu meletakkannya kembali di atas nakas.
Minsook kembali berbaring. Dan Kyuhyun juga ikut membaringkan diri di sampingnya. Bukannya segera memejamkan mata, namun mereka menatap langit-langit kamar dalam hening. Keduanya tampak sibuk dengan pikiran masing-masing.
Jarum jam dinding terus berputar detik demi detik. Keduanya masih tenggelam dalam kebisuan. Hingga Kyuhyun yang tidak tahan dengan suasana itu berinisiatif membuka suara. Diam-diam matanya mencuri pandang ke samping. Dari ekor matanya juga bisa terlihat bahwa Minsook masih terjaga, seperti dirinya.
“Minsook-ah…” Suara bass Kyuhyun menembus gendang telinga Minsook.
Minsook memutar kepalanya ke samping, hingga sepasang manik beningnya bertatapan langsung dengan manik teduh Kyuhyun. Entah sejak kapan Kyuhyun sudah berbaring miring. Kembali, ia merutuki jantung bodohnya karena lagi-lagi mengagetkannya dengan degupan yang sangat cepat. Bahkan hingga membuatnya lupa bagaimana cara bernapas dengan baik dan benar.
Saling bertatapan cukup lama dalam diam, membuat Minsook kikuk. Ia menunggu kata yang akan Kyuhyun ucapkan selanjutnya namun tak kunjung ia dengar. Hingga akhirnya selang beberapa detik kemudian, Kyuhyun kembali bersuara. Mengungkapkan permintaan yang sukses membuat jantung Minsook meledak kegirangan.
“Bolehkah aku memelukmu? Tenang saja, aku takkan melakukan apa-apa padamu. Aku hanya ingin memelukmu.”
.
—oOo—
.
Sepanjang perjalanan menuju kelas, senyum yang menghiasi paras manis Minsook tak kunjung pudar. Gadis itu masih saja terbayang kejadian semalam. Kejadian yang membuat hatinya berdesir dan membuat jantungnya meledak kegirangan.
Minsook terus tersenyum sendiri hingga masuk dalam kelas dan akhirnya duduk di kursinya. Pikirannya yang melayang entah ke mana membuatnya tak menyadari jika sedari tadi ada sepasang mata yang menatapnya penuh keheranan.
“Hei! Ada apa denganmu, Minsook-ah? Kau aneh sekali. Senyum-senyum sendiri. Apa ada yang salah denganmu hari ini?” Minsook terseret ke alam nyatanya saat suara tenor seseorang menembus gendang telinganya.
Kepala Minsook menoleh ke samping, menatap datar seseorang yang sudah berhasil mengacaukan lamunan indahnya. Ia tak lantas menjawab. Hanya menoleh sahabatnya itu sekilas lalu kembali melanjutkan lamunan yang sedari tadi hinggap dalam pikirannya.
Sohee yang kini duduk di samping Minsook semakin menambah kerutan di keningnya. “Hei! Hei! Hei! Kau tak mendengarkanku, eoh? Lee Minsook!” Seru Sohee gemas. Jeda sebentar, gadis itu sekilas tampak berpikir. Sebelum kemudian mulut cerewetnya kembali bersuara.
“Ah! Aku tahu. Aku tahu! Pasti kau sedang membayangkan… malam pertamamu semalam dengan Kyuhyun sunbae, kan? Iya, kan?” Celoteh Sohee seraya menyenggol bahu Minsook. Mulai menggoda sahabat dekatnya itu.
Seketika bola mata Minsook melebar. “MWOYA?” Serunya terkejut. Dengan cepat kepalanya berputar kembali ke samping. “A–apa maksudmu? Jangan asal berbicara! Kau itu sok tahu sekali~” Ucap Minsook mencibir.
“Ah~ Jangan berpura-pura tak mengerti, Minsook-ah. Pada sahabatmu sendiri kau tak perlu malu-malu begitu. Hm?” Ucap Sohee seraya mengerlingkan sebelah matanya.
Minsook memutar bola matanya malas seraya menggedikkan bahu menanggapi godaan dari Sohee. Konyol sekali. Bagaimana bisa Sohee dengan gamblang membahas topik perbincangan seperti itu padanya.
“Ayo, ceritakan padaku tentang malam pertamamu semalam, Minsook-ah! Aku ingin sekali mendengarnya. Ayolah~” Desak Sohee. Bersikeras agar Minsook membuka mulut. Dirinya sudah diliputi penuh dengan rasa penasaran.
“Di mana saja Kyuhyun sunbae ‘menandai’mu? Aku ingin melihatnya.” Sohee menangkup wajah Minsook. Mengamati wajah manis sahabatnya itu lalu turun ke leher. Tanpa rasa bersalah menyibak rambut panjang Minsook yang tergerai hingga menampilkan leher serta tengkuk putih nan mulus gadis berparas ayu itu. Berharap menemukan suatu ‘tanda’ yang ia cari.
“YA! Kim Sohee! Apa yang kau lakukan!” Pekik Minsook dengan suara lepas membuat perhatian mahasiswa lain teralih pada mereka. Menatap mereka dengan tatapan heran. Cepat-cepat Minsook menangkup mulutnya.
“Aku kan hanya ingin tahu di mana saja Kyuhyun sunbae menci– hmmppt~” Mulut Sohee akan semakin menjadi jika Minsook tidak cepat-cepat membekapnya.
Minsook berdecak kesal. “Tsk! Mulutmu bisa diam tidak, eoh? Asal kau tahu. Semalam tidak ada malam pertama antara aku dan Kyuhyun sunbae. Kau puas?” Terang Minsook seraya mendengus kesal.
Sohee melongo seketika. “Tidak mungkin!” Tukasnya tidak percaya.
“Apanya yang tidak mungkin? Kau tidak percaya? Terserah. Lagian untuk apa aku berbohong. Kurang kerjaan saja.” Ujar Minsook acuh tak acuh.
“T–tapi… bagaimana bisa kalian tidak melakukannya? Bukankah kalian pengantin baru? Sudah sewajarnya bukan, jika kalian melakukan malam pertama?” Tanya Sohee beruntun membuat Minsook kembali mendengus.
“Aish! Bisa tidak, kau tak membahas masalah itu?” Protes Minsook seraya menggigit bibir bawahnya. Merasa canggung saja dengan topik pembicaraan yang tengah mereka bahas.
Sohee mendesah kecewa. “Sayang sekali~” Ucap gadis cerewet itu. “Kalian pasangan yang aneh. Kalian tidak melakukan malam pertama… Baru saja tadi malam kalian menikah dan menjadi sepasang pengantin baru, tapi hari ini kau masih masuk kuliah. Seharusnya di hari pertama kalian menjadi sepasang suami istri, kalian menghabiskan waktu berdua saja. Entah itu bulan madu atau pergi liburan.” Ujar Sohee tak habis pikir.
Kali ini Minsook tak melayangkan protes. Gadis itu terdiam, memikirkan ucapan yang baru saja Sohee katakan. Tak lama kemudian ia mengembuskan napas melalui mulut. Sepertinya ia membenarkan ucapan sahabatnya itu.
Minsook menatap Sohee dengan raut datar. “Jika aku tak masuk kuliah, aku akan bosan di rumah. Lagian Kyuhyun sunbae juga berangkat ke kantornya. Percuma saja jika aku di rumah sementara Kyuhyun sunbae tidak ada.” Jelas tersirat sebuah kekecewaan dalam ucapan yang baru saja Minsook katakan.
Sohee mengerutkan kening dan terdiam sejenak melihat perubahan raut wajah Minsook. “Aigoo~ Begitukah? Kalian lebih memilih sibuk dengan urusan kalian dibanding menghabiskan waktu berdua?” Ucap Sohee ikut merasa kecewa.
Minsook menggigit bibir bawahnya seraya tertunduk lesu. “Entahlah~”
.
—oOo—
.
Sepasang mata bulat dari seorang gadis di hadapan Kyuhyun melayangkan tatapan tajam. Sudut bibirnya terangkat sebelah menciptakan senyum sinis yang terlihat cukup mengerikan. Namun tidak berpengaruh bagi seorang Cho Kyuhyun. Lelaki yang mendapati aura hitam dari gadis itu hanya menanggapinya dengan tenang. Bahkan terkesan tak acuh. Terbukti, fokus lelaki bermanik tajam itu pada layar laptopnya tak teralihkan sedikitpun.
“Aku sungguh tak menyangka. Kau benar-benar menikahi gadis itu.” Komentar gadis itu seakan tak percaya.
Kyuhyun tersenyum samar. “Ada masalah?” Tanya Kyuhyun ringan.
Mata bulat gadis itu kian melebar. “Tentu saja itu adalah sebuah masalah. Bagaimana bisa kau menikahi gadis yang baru kau kenal. Oh! Bahkan kau mengenal gadis itu karena ‘memenangkan’nya.” Tutur gadis yang menjabat sebagai sekretaris di perusahaan Cho Corp itu dengan nada tak suka.
Kyuhyun menaikkan sebelah alis tebalnya. “Memangnya kenapa, Hyenim-ah? Apa itu terlihat aneh?” Tanya Kyuhyun meminta pendapat.
Hyenim memutar bola matanya malas. “Aneh. Bahkan sangat aneh! Kau tahu? Kau seperti bukan seorang Cho Kyuhyun yang ku kenal. Aku tahu kau suka sekali bermain judi dan tak jarang memenangkannya dengan taruhannya seorang wanita. Selama ini yang aku tahu, kau paling anti berhubungan dengan wanita taruhan seperti itu. Tanpa mengenal siapa wanita-wanita itu kau hanya melakukan ‘kencan’ semalam saja kemudian semuanya berlalu. Tapi kenapa dengan sekarang?” Ujar Hyenim tak habis pikir.
“Bagaimana bisa kau sampai rela menikahi gadis taruhanmu itu? Kau bisa saja kan ‘berkencan’ semalam saja dengannya tanpa harus menikahinya. Bukankah itu yang selama ini kau lakukan pada mereka?” Selama ini Hyenim sungguh tak mengerti dengan jalan pikiran lelaki yang sudah lama menjadi temannya itu semenjak kuliah dulu.
Mendengar perkataan Hyenim membuat Kyuhyun mengingat kembali saat-saat itu. Saat di mana ia menyerahkan seluruh perhatiannya pada sosok Minsook yang telah resmi menjadi istrinya sekarang.
Saat itu di sebuah bar, di area perjudian ia menantang seorang pria paruh baya yang terkenal akan kegilaannya dalam berjudi. Mereka bermain dengan taruhan uang yang nominalnya terbilang cukup besar. Bahkan bisa dibilang besar-besaran. Hingga akhirnya ia bertemu dengan sosok Minsook yang telah berhasil menjeratnya dalam kungkungan rasa aneh namun mendebarkan.
.
—oOo—
.
Tatapan remeh yang dilayangkan oleh pria paruh baya di hadapannya, tak mengurungkan niat Kyuhyun untuk melanjutkan permainan mereka di meja judi. Justru Kyuhyun semakin bersemangat menantang pria tua yang terlihat angkuh dan sombong itu. Sangat antusias ingin segera membabat habis apa saja yang pria angkuh itu pertaruhkan.
“Kau sudah siap anak muda?” Tanya pria paruh baya itu dengan suara beratnya.
Kyuhyun tersenyum miring. “Tentu saja, Lee Ahjussi. Aku sangat siap untuk segera mengalahkan Anda.” Ucap Kyuhyun sinis tanpa keraguan.
Pria paruh baya itu berdecih. “Baiklah. Aku salut dengan keberanianmu.” Pujiannya sarat akan sebuah sindiran.
Mereka mulai berkonsentrasi pada kartu-kartu yang sudah disajikan di hadapan masing-masing. Memainkan sebuah perjudian dengan serius. Raut mereka sungguh sulit terbaca. Entah pikiran apa yang kini hinggap di otak ‘cerdik’ mereka.
Suasana tegang jelas terasa bagi orang-orang sekeliling yang menyaksikannya. Namun bagi kedua belah lawan, permainan ini cukuplah menyenangkan.
Pria paruh baya di hadapan Kyuhyun yang sedari tadi menampilkan raut seriusnya kini mulai tersenyum miring. Menatap remeh pada kartu yang kini ditunjukkan oleh sang lawan. “Sayang sekali. Sepertinya aku yang akan menang.” Ucap sang pria tua menyombongkan diri seraya menunjukkan kartu kemenangannya.
Dan Bingo! Sepertinya Kyuhyun memang harus menerima kekalahannya. Well, babak pertama lelaki itu kalah. Namun ia tak berniat untuk berhenti sampai di sini.
Permainan berlanjut pada babak kedua. Hingga babak ketiga dan keempat kemenangan masih setia berpihak pada Lee Ahjussi. Dan itu telah berhasil menguras habis seluruh uang yang Kyuhyun bawa. Shit!
“Bagaimana anak muda? Apa kau masih menginginkan permainan ini berlanjut? Jika iya, lebih baik kau pulang. Cepatlah kembali dengan membawa uang atau harta yang masih kau miliki di rumahmu. Aku akan setia menunggumu. Kapanpun.” Ujar Lee Ahjussi seakan meledek.
“Tapi jika kau menyerah, permainan berakhir. Dan aku akan pulang.” Lanjut Lee Ahjussi seraya tersenyum penuh kemenangan.
Rahang Kyuhyun mengeras. Lelaki tampan itu sungguh tak terima dengan kekalahan yang dialaminya. Ia tak rela seluruh uang yang dibawanya jatuh begitu saja dalam genggaman seorang pria tua angkuh seperti Tuan Lee. Ia harus merebutnya kembali.
Kyuhyun menghelas napas berat, berusaha menekan emosi yang sudah siap meletup kapan saja. Ia tak boleh lepas kendali. “Aku masih memiliki sesuatu yang akan aku pertaruhkan.” Ucap Kyuhyun selang beberapa detik, setelah berhasil memutar otak jeniusnya.
Tuan Lee menaikkan sebelah alisnya. “Apa?” Tanyanya penasaran.
“Mobil.”
Mata Tuan Lee berbinar senang. “Waw! Taruhan yang sangat menarik.” Tanggap pria tua itu merasa kagum.
Kyuhyun segera mengeluarkan sesuatu dari kantung celananya. “Ini kunci mobilku.” Ucapnya seraya meletakkan kunci mobilnya ke tengah meja judi.
“Baiklah. Dan aku akan mempertaruhkan seluruh uangku ini.” Kini giliran Tuan Lee mempertaruhkan seluruh uang hasil kemenangannya tadi.
Permainan judi malam itu pun berlanjut. Kedua lelaki berbeda generasi itu kembali berkonsentrasi memainkan kartu-kartu yang kini mereka pegang. Memutar otak secerdik mungkin demi memenangkan permainan.
.
—oOo—
.
Kali ini Kyuhyun patut berbangga diri. Akhirnya ia berhasil merebut seluruh uangnya yang sempat jatuh ke tangan Tuan Lee. Bahkan kini Kyuhyun mendapatkan lebih karena Tuan Lee yang dengan gegabah mempertaruhkan seluruh harta miliknya. Mungkin pria tua itu pikir, dirinya akan terus memenangkan judi ini. Sungguh terlalu percaya diri.
“Shit!” Umpat Tuan Lee kesal. “Ini tidak mungkin. Bagaimana bisa aku kalah dari anak muda sepertimu? Ini sangat konyol.” Tuan Lee menggelengkan kepala seolah tak percaya. Pria tua itu sungguh tak terima. Bagaimana bisa seluruh hartanya dibabat habis oleh pria muda di hadapannya? Selama ini ia tak pernah dikalahkan sekalipun oleh seorang pria muda yang belum cukup matang sepertinya.
Kyuhyun tersenyum penuh kemenangan. “Well, apa Anda masih ingin lanjut bermain, Lee Ahjussi?” Tanya Kyuhyun sengaja memancing kekesalan Tuan Lee.
Tuan Lee menggeram tertahan. “Jangan berbangga hati dulu anak muda. Masih ada sesuatu yang akan aku pertaruhkan. Tunggu sebentar. Aku akan segera kembali!”
.
—oOo—
.
Seorang gadis baru saja menyelesaikan tugas laporan kuliahnya malam itu. Ia tampak meregangkan otot-ototnya yang terasa pegal karena cukup lama berkutat dengan laptop miliknya. Lalu melemaskan seluruh jemarinya yang telah ia gunakan untuk mengetik di atas keyboard.
Brak!
Tiba-tiba pintu kamar gadis itu dibuka keras oleh seseorang. Dan pelakunya adalah ayah gadis itu. Ia pun merasa terkejut sekaligus kesal.
“Appa!” Pekik gadis itu tanpa sadar. “Apa yang- YA! Appa!” Teriak gadis itu saat tiba-tiba sang ayah menarik tangannya dengan kasar.
“Kau harus ikut appa sekarang!” Perintah ayah dari sang gadis tak terbantahkan.
Gadis itu melebarkan matanya. “Ke mana, appa? Ini sudah malam. Aku ingin tidur, appa.” Kilahnya seraya berusaha melepas cengkeraman tangan ayahnya namun tidak bisa. Ayahnya terlalu kuat.
“Kau ikut saja. Jangan banyak tanya, Lee Minsook!” Tuan Lee terus menyeret Minsook tanpa menghiraukan penolakan dari putri semata wayangnya itu.
“Appa! Lepaskan aku!” Berontak Minsook masih tak menyerah.
Namun semuanya terlambat. Kini Minsook sudah berhasil Tuan Lee bawa ke tempat perjudian tadi. Minsook terkejut bukan main. Sebenarnya apa maksud sang ayah membawanya ke tempat terkutuk itu?
“Ini! Aku akan mempertaruhkan putriku, anak muda. Bagaimana? Apa kau tertarik?”
Mata Minsook membulat sempurna. Gadis itu shock berat. Apa? Ayahnya ingin menjadikannya barang taruhan? Ya Tuhan! Bagaimana bisa ayahnya setega itu?
“Appa!” Tegur Minsook marah.
Tuan Lee menatap Minsook tajam. “Kau diam saja, Minsook-ah! Atau kau ingin appa mencekik lehermu?” Ancam Tuan Lee kejam.
Tanpa Minsook sadari sejak kehadirannya di tempat judi itu, sepasang manik obsidian Kyuhyun terus memperhatikannya. Menatap terpana akan sosoknya. Namun bukan berarti lelaki tampan itu tak mengamati sikap kasar ayah Minsook.
Melihat itu Kyuhyun semakin memendam rasa kesal yang begitu dalam terhadap Tuan Lee. Ternyata pria tua itu tidak hanya angkuh dan sombong. Namun juga begitu kejam. Bagaimana mungkin seorang ayah tega menjadikan putrinya sebagai bahan taruhan untuk memuaskan hasratnya dalam bermain judi? Sungguh tidak masuk akal.
“Ehem! Baiklah. Kita lanjutkan permainan ini.”
.
—oOo—
.
Setetes demi tetes air bening terus berjatuhan. Minsook tak kuasa menahan tangisnya. Baru saja permainan judi antara ayahnya dan lelaki yang tak dikenalnya itu selesai. Keadaannya mungkin takkan terlalu buruk jika ayahnya yang menang. Namun kenyataannya ayahnya kalah. Dan itu artinya ia harus merelakan diri untuk jatuh ke tangan lelaki asing penggila judi itu. Oh Tuhan! Ia tak bisa membayangkan bagaimana hidup yang akan dijalaninya nanti bersama lelaki asing itu?
“Siapa namamu?” Suara bass Kyuhyun menembus gendang telinga Minsook.
Sedari tadi Minsook bergeming dengan kepala menunduk. Ia sungguh tidak berminat untuk menatap rupa lelaki bejat yang telah berhasil memenangkannya. Bahkan saat ayahnya dan lawannya itu bermain, Minsook tak memperhatikannya sama sekali. Ia hanya terlalu muak untuk menyaksikannya.
Tak mendengar jawaban apapun yang keluar dari bibir Minsook, Kyuhyun tersenyum tipis. “Hei! Apa kau mendengarkanku?” Tegur Kyuhyun dengan suara lembut. Jemarinya berusaha mengangkat dagu Minsook agar gadis itu mau menatapnya.
Deg!
Mata kecoklatan Minsook terpana seketika. Kini gadis itu seakan terhipnotis oleh sorot penuh pesona dari manik obsidian di hadapannya. Demi Tuhan! Ia tak pernah menyangka jika lelaki itu sangat tampan dan mempesona. Ia baru menyadarinya sekarang. Mendadak jantungnya berdetak begitu kencang.
“Ah, baiklah jika kau tak mau memperkenalkan diri. Lagian aku juga sudah tahu namamu.” Kyuhyun yang masih belum mendengar suara sedikitpun dari bibir Minsook akhirnya menyerah. “Lee Minsook. Namanya yang cantik.”
Detakan jantung Minsook semakin menggebu mendengar pujian dari Kyuhyun serta mendapati lelaki itu menyunggingkan senyum yang begitu menawan. Dan selanjutnya Kyuhyun membawa Minsook ke dalam kehidupannya. Hingga akhirnya Kyuhyun merasakan bahwa hatinya benar-benar telah jatuh ke dalam hati gadis taruhannya itu.
.
—oOo—
.
Kini Minsook terlihat membuka lemari. Gadis itu mengambil salah satu piyama yang akan ia siapkan untuk dipakai Kyuhyun. Suaminya itu sudah pulang dari kantor sekitar jam sembilan malam. Dan usai makan malam sang suami segera menyibukkan diri dalam kamar mandi.
Sekitar lima belas menit kemudian akhirnya Kyuhyun keluar dari kamar mandi. Kini tubuh lelaki tampan itu hanya terbalut selembar handuk dari pinggang hingga sebatas lutut. Sementara bagian tubuh atasnya terekspos bebas tanpa balutan apa-apa.
Minsook yang melihatnya segera merasakan panas di kedua pipinya. Semburat merah merona pun terbit dari sana. Cepat-cepat gadis itu menundukkan kepala merasa tersipu. Tapi bagaimana dengan piyama yang sekarang ia pegang? Bukankah ia menyiapkannya untuk Kyuhyun? Itu berarti ia harus menyerahkannya pada suaminya itu, bukan?
Dengan keberanian yang ada, Minsook mendekati Kyuhyun. “I ni piyamamu, sunbae.” Tangannya sedikit bergetar saat menyerahkan piyama itu pada Kyuhyun. Dan Kyuhyun menerimanya dengan hati senang.
Kyuhyun tersenyum menatap paras manis Minsook. “Terima kasih.” Ucapnya yang hanya dibalas anggukan kecil dari istrinya.
Perlahan Minsook memundurkan langkahnya lalu kembali mendudukkan diri di tepi ranjang. Kepalanya juga kembali menunduk selagi Kyuhyun mengenakan piyamanya. Dan tak lama Minsook merasakan beban berat di sampingnya bertambah. Kini sang suami duduk di sampingnya dengan jarak yang cukup dekat. Membuatnya dapat merasakan wangi segar dari tubuh jangkung sang suami sehabis mandi.
Minsook mendapati Kyuhyun tampak meregangkan otot-ototnya. Suaminya itu juga memijat bagian tengkuk serta bahunya sendiri. Pasti Kyuhyun merasa sangat lelah karena pekerjaannya hari ini.
“Eum… Sunbae. Apa kau sangat lelah?” Tanya Minsook memecah keheningan.
Kyuhyun segera menoleh. “Iya. Pekerjaan hari ini cukup melelahkan~” Jawabnya seraya tersenyum simpul.
“Apa aku boleh memijatmu, sunbae?” Minsook yang merasa tak tega mencoba menawarkan bantuan.
Kyuhyun terpana seketika. Lalu tersenyum dan mengangguk. “Boleh. Kemarilah.” Kyuhyun mempersilakan. Meminta Minsook mendekat dengan menunjukkan kedua bahunya agar istrinya itu memijatnya.
Minsook pun memijat bahu Kyuhyun penuh perasaan. Sesekali bibirnya tersenyum karena ia bisa menjadi berguna untuk suaminya.
“Hm… Ternyata pijatanmu sangat enak, Minsook-ah.” Puji Kyuhyun merasakan nikmatnya pijatan dari sang istri.
“Benarkah?” Tanggap Minsook seolah tak percaya.
“Ehm…” Jawab Kyuhyun seraya tersenyum dan mengangguk. Tanpa ia sadari istrinya pun tersenyum di balik punggungnya.
Merasakan tubuhnya sudah lebih baik Kyuhyun meminta Minsook untuk berhenti. “Sudah cukup, Minsook-ah. Tubuhku sudah lebih baik sekarang.”
Baru saja Minsook melepaskan tangannya dari bahu Kyuhyun namun suara Kyuhyun segera menginterupsi. “Tapi tunggu.” Seru Kyuhyun. Lalu dengan sigap menarik kedua tangan Minsook hingga melewati pinggangnya. Membuat Minsook terkejut.
“Bisakah kau lebih mendekat.” Pinta Kyuhyun tanpa melepas genggamannya dari tangan Minsook.
Minsook menurut. Ragu-ragu kepala gadis itu mendekat hingga berada di atas bahu Kyuhyun. Tidak mungkin ia menolak karena suaminya sudah terlanjur menahannya, membuatnya tak bisa berkutik.
Kyuhyun membimbing Minsook agar memeluk tubuhnya dari belakang. Membuat kedua tangan lentik itu bersarang di perutnya.
“Maukah kau melakukan ini padaku setiap hari?” Tanya Kyuhyun seraya menatap wajah Minsook dari samping. “Aku ingin merasakan pijatanmu lagi saat aku merasa lelah. Dan aku juga ingin merasakan pelukanmu seperti ini setiap hari.”
Lagi-lagi Kyuhyun berhasil membuat hati Minsook berdebar hebat karena permintaannya. Darah gadis itu berdesir dengan detakan jantung yang begitu kencang.
Minsook mengerjapkan matanya tak percaya. Sorot mata Kyuhyun begitu dalam menembusnya. Apalagi dengan jarak yang sangat dekat seperti ini. Membuatnya sungguh tak bisa berkutik.
Masih dalam posisinya, mereka bertatapan cukup lama. Hingga entah siapa yang memulai bibir keduanya saling bertaut.
.
—oOo—
.
Semalam tidak terjadi apa-apa. Mereka hanya sebatas berciuman. Beberapa detik saja namun berhasil membuat Minsook gugup luar biasa. Bahkan sampai mengeluarkan keringat dingin. Hei! Benar saja. Ciuman semalam adalah ciuman pertamanya. Bagaimana ia tidak merasakan gugup? Namun hatinya tak dapat dipungkiri bahwa ia merasa senang karena yang mencuri ciuman pertamanya itu adalah suaminya sendiri.
Kyuhyun yang melihat kegugupan Minsook semalam membuatnya tak sampai hati untuk bertindak lebih. Meskipun hasrat lelaki tampan itu menginginkan lebih namun ditahannya mati-matian. Minsook yang sudah mau menerima ciumannya saja membuat hatinya luar biasa bahagia. Setidaknya ada sedikit kemajuan di antara hubungan mereka dibanding sebelumnya, yang hanya diliputi perasaan canggung dan terasa kaku.
Saat ini Minsook merasa salah tingkah karena tatapan ibu Kyuhyun yang seakan mengintimidasinya. “Sudah satu Minggu kalian menikah, tapi Kyuhyun belum pernah menyentuhmu?” Tanya Nyonya Cho seolah tak percaya.
Minsook menggeleng kaku. Jujur ia sedikit takut mendapati reaksi dari mertuanya itu setelah mendengar pengakuannya. Bodoh sekali, bukan? Kenapa ia harus jujur? Oh Tuhan! Tapi ia sungguh tak kuasa memendam masalah itu sendiri. Ia bingung harus kepada siapa lagi ia berkeluh kesah jika bukan pada mertuanya.
“Ya Tuhan… Minsook-ah~” Nyonya Cho benar-benar tak habis pikir. “Apa kau tak merasa kasihan pada Kyuhyun?” Mendengar pertanyaan mertuanya itu, Minsook hanya menggigit bibir bawahnya.
“Kau tahu? Selama ini… ah, sebelumnya maaf, Minsook-ah. Umma ingin jujur padamu.”
Nyonya Cho menghela napas sejenak. “Selama ini umma sering sekali melihat Kyuhyun berkencan dengan wanita. Bukan hanya dengan satu wanita tapi berganti setiap kali dia berkencan. Dan umma yang melihatnya merasa pusing. Di antara wanita yang pernah dia kencani itu tak ada satupun yang berhasil menarik hatinya.” Nyonya Cho memberi jeda sebentar sebelum kembali melanjutkan ceritanya.
“Kyuhyun melakukan itu semata-mata hanya untuk kesenangannya saja. Padahal umma sudah ingin sekali melihatnya menikah. Berhubungan serius hanya dengan satu wanita di usianya yang sudah cukup matang. Umma sempat putus asa menasihatinya untuk berhenti bermain dengan wanita. Hingga akhirnya umma merasa terkejut saat tiba-tiba dia memperkenalkanmu pada umma. Dan berencana ingin menikah.” Ujar Nyonya Cho panjang lebar dengan diakhiri sebuah senyuman. Merasa bahagia karena akhirnya Kyuhyun melabuhkan hatinya pada seorang gadis. Minsook yang sedari tadi setia mendengarnya ikut tersenyum.
“Setelah menikah denganmu umma rasa Kyuhyun berubah. Umma sudah tak melihatnya lagi bermain dengan wanita tidak jelas yang selama ini dia kencani. Dan umma sangat bahagia melihatnya. Sepertinya ia sangat menjaga pernikahannya denganmu.”
Minsook yang mendengar penuturan panjang dari sang mertua merasa terharu. Benarkah Kyuhyun berubah lebih baik karena kehadirannya? Tapi bagaimana bisa? Apa itu artinya Kyuhyun mencintainya? Selama ini ia hanya berpikir jika Kyuhyun menikahinya karena ingin mempermainkannya saja mengingat dirinya hanyalah barang taruhan yang suaminya itu menangkan.
“Sookie-ya… Umma ingin kau jangan mengecewakan, Kyuhyun. Bimbinglah dia agar menjadi manusia yang lebih baik. Umma rasa hanya kau yang bisa menaklukannya. Kau lihat, kan? Sekarang sikapnya sudah lebih dewasa. Itu karena kau, sayang.” Tutur Nyonya Cho seraya mengelus rambut Minsook sayang.
Minsook mengangguk dan tersenyum haru. “Iya, umma.”
“Mulailah layani suamimu dengan baik, sayang. Kau mengerti maksud umma, kan? Apa kau mau Kyuhyun berpaling? Bermain dengan wanita tidak jelas di luar sana jika kau tak mau melayaninya. Tak mau memenuhi kebutuhan lahir dan batinnya, hm?” Ucap Nyonya Cho sengaja menggoda menantu cantiknya itu.
Minsook tertegun lalu menggeleng. “Tidak, umma.”
Nyonya Cho tersenyum puas. “Bagus! Ingat, nanti malam kau harus memulainya, Minsook-ah. Arraseo!” Ucap Nyonya Cho seraya mengerlingkan sebelah matanya.
“Eum… Oh, ya. Umma nanti akan memberikan sesuatu padamu. Untuk penunjang acaramu dan Kyuhyun nanti malam.” Nyonya Cho tersenyum misterius. Minsook yang melihatnya sedikit bergedik.
.
—oOo—
.
Minsook membulatkan matanya menatap sesuatu yang kini tengah dipegangnya. Sesuatu yang diberikan sang mertua tadi sore saat ibu kandung dari suaminya itu berkunjung ke rumah.
Gadis itu memejamkan mata seraya menggelengkan kepala. ‘Ya Tuhan… Haruskah aku memakai ini?’ Ucap batinnya bimbang. Tangannya sedikit bergetar meremas gaun tipis dalam genggamannya.
Lingerie. Gaun tipis dengan bahan yang sangat minim itu sungguh tak layak pakai menurutnya. Memakai gaun itu sama saja seperti tak memakai apa-apa. Bagaimana tidak? Gaun itu hanya akan menutupi bagian tertentu pada tubuh seorang wanita. Hanya sebagian kecil dan sebagian besar tubuh lainnya akan terekspos bebas. Memperlihatkan lekukan indah dari tubuh para makhluk Hawa.
“Minsook!” Sebuah suara disertai ketukan di balik pintu segera menyadarkan Minsook dari pikirannya yang melayang entah ke mana.
“Iya, sunbae!” Balas Minsook dari dalam kamar mandi.
“Sedang apa kau di dalam? Kenapa lama sekali? Jangan berkebiasaan terlalu lama di kamar mandi malam-malam begini, Sookie-ya… Tidak baik untuk kesehatan.” Ujar Kyuhyun menasihati.
“Iya, sunbae. Aku akan keluar sebentar lagi.”
Tak ada pilihan lain. Minsook harus ingat perkataan mertuanya. Ia harus melakukannya sekarang. Ia juga sudah tak tega setiap hari melihat suaminya menahan hasratnya mati-matian karena begitu menghargainya yang merasa belum siap. Kyuhyun yang terus mengalah untuknya membuatnya benar-benar merasa bersalah.
.
—oOo—
.
Akhirnya Minsook memakai lingerie itu juga, lalu dengan hati berdebar keluar dari kamar mandi. Ia segera mendapati pemandangan suaminya yang kini tengah berkutat dengan smartphone di tangannya. Perlahan Minsook mendekat.
Kyuhyun belum menyadarinya. Lelaki itu sadar setelah tubuh Minsook sudah berdiri tepat di hadapannya. “M–Minsook…” Sepasang obsidiannya terpana seketika. Benarkah apa yang dilihatnya sekarang?
Minsook memainkan ujung lingerie-nya gugup. “S-sunbae… M-maaf, aku tak sopan memakai gaun ini.” Ucap Minsook seraya menggigit bibir bawahnya.
Kyuhyun tak segera menjawab. Matanya masih terpana menatap pemandangan yang sungguh indah dari sosok istrinya. Ia pun menelan salivanya susah. Oh Tuhan! Apa Minsook berniat menggodanya? Ia tak bisa menjamin akan kuat menahan hasratnya jika melihat keadaan istrinya seperti sekarang.
“A–aku akan segera menggantinya jika kau tak menyukainya, sunbae.” Minsook pikir Kyuhyun marah karena tak ada tanggapan apa-apa yang ia dengar dari bibir suami tampannya itu.
Minsook hendak kembali menuju kamar mandi namun dengan sigap Kyuhyun menariknya. Minsook pun terduduk di atas pangkuan Kyuhyun dengan punggung yang tenggelam dalam dada suaminya itu. “Apa yang menyebabkanmu tiba-tiba memakai gaun ini, Minsook-ah?” Tanya Kyuhyun dengan suara berat. Sangat jelas tengah menahan gejolak yang tak tertahan. Napasnya pun tampak memburu.
“S–sunbae~ A–aku…” Minsook terlanjur diserbu rasa gugup membuat tenggorakannya mendadak tercekat. Lidahnya juga terasa kelu.
Kyuhyun menyerukkan wajah di antara lekukan leher dan bahu putih Minsook. Menghembuskan napas beratnya di sana. Juga menghirup aroma tubuh sang istri yang ternyata begitu memabukkan.
Kulit Minsook terasa sangat halus dan lembut membuat Kyuhyun ingin segera mengecapnya. Bibir Kyuhyun mulai melancarkan aksinya. Mengecupnya bertubi-tubi. Oh Tuhan! Kyuhyun tak bisa berhenti. Ia ingin merasakan lebih dari ini.
Minsook merasakan tubuhnya seperti tersengat arus listrik saat Kyuhyun mulai mencumbunya tanpa henti. Ribuan kupu-kupu seakan terbang di atas perutnya saat ini juga.
“Minsook, katakan padaku jika kau mengizinkanku menyentuhmu sekarang. Hm?” Bisik Kyuhyun tepat di telinga Minsook. Lalu tak lupa memberikan kecupan di sana.
Minsook memejamkan matanya erat. Pikirannya sudah tak karuan karena perlakuan mesra Kyuhyun terhadap tubuhnya. Bahkan untuk menjawab pertanyaan suaminya itu saja ia tak sanggup.
“Katakan sayang… Ku mohon katakan sesuatu padaku. Jangan membuatku menunggu.” Kyuhyun menggeram merasakan tubuh bagian bawahnya mulai memberontak.
Tanpa menunggu persetujuan Minsook, Kyuhyun menurunkan tali tipis lingerie yang istrinya kenakan hingga jatuh sebatas siku. Lalu kembali mendaratkan bibirnya di bahu mulus itu. Mengecup serta melumatnya intens.
“Sunbae! Ku mohon, sentuh aku.” Pinta Minsook akhirnya membuat Kyuhyun tersenyum puas di sela cumbuannya.
Perlahan tangan Kyuhyun mulai merambah ke paha mulus Minsook. Mengelusnya dengan gerakan seduktif. Tak lama lalu menyingkap lingerie Minsook ke atas. Segera tangannya menelusup masuk ke dalam kain yang membalut daerah paling privat istrinya.
Satu desahan lolos dari bibir Minsook saat tangan Kyuhyun dengan lancang menjamah daerah terlarangnya. Dan desahan berikutnya terdengar disertai pekikan yang cukup keras.
“Tenangkan dirimu, sayang. Jangan tegang. Rileks saja, sayang…” Bisik Kyuhyun lembut.
Kyuhyun mulai membimbing Minsook untuk berbaring. Lelaki itu segera memagut bibir sang istri yang sedari tadi belum mendapat cumbuan dari bibirnya. Kini tubuhnya berada di atas tubuh Minsook, membuatnya lebih leluasa untuk melakukan keinginannya.
Minsook memeluk erat leher Kyuhyun membuat ciuman mereka semakin dalam. Ia merasakan tangan Kyuhyun sedikit mengangkat punggungnya. Meraba-raba, mencari pengait pembungkus dua aset kembarnya. Lalu melepasnya dan membuangnya asal.
.
—oOo—
.
Setelah melakukan pemanasan, Kyuhyun merasa Minsook sudah siap untuk menyambutnya. Kini kain yang sempat melekat pada tubuh keduanya sudah tertanggal seluruhnya. Kyuhyun mulai mengarahkan miliknya yang sudah terbangun sempurna pada milik Minsook yang sudah basah.
“Sunbae, aku takut~” Minsook mengeluh lirih.
Kyuhyun tersenyum lalu mengecup kening Minsook lembut. “Tenang, sayang… Semuanya akan baik-baik saja. Percaya padaku.” Ucap Kyuhyun memenangkan serta meyakinkan hati istrinya.
“Bersiaplah, sayang. Sebentar lagi tubuhmu akan menyatu dengan tubuhku.”
Kyuhyun mulai mendorong miliknya agar masuk ke dalam milik Minsook. Masih sangat sempit. Ada sesuatu yang menghalangi jalan masuknya membuatnya kesulitan. Namun dengan sekuat tenaga ia memaksanya menerobos masuk.
Minsook meringis. “Sakit, sunbae.” Rintih gadis itu menahan sakit merasakan sesuatu yang memaksa masuk ke dalam tubuhnya. Ia belum pernah mengalami ini sebelumnya. Dan rasanya sungguh sakit bukan main.
“Sabar, sayang. Ini memang akan terasa sakit di awal. Ku mohon bertahanlah sebentar.”
Masih belum bisa masuk. Baru setengahnya. Mau tak mau Kyuhyun menariknya keluar terlebih dahulu. Ia tak ingin menyiksa Minsook terlalu lama. Jika ia melakukannya secara perlahan justru akan membuat sang istri terus merasakan sakit.
“Sayang, lampiaskan saja padaku jika kau merasakan sakit. Lakukan sesukamu apa yang ingin kau lakukan pada tubuhku untuk mengalihkan rasa sakitmu.” Setelah mengucapkan itu Kyuhyun tak main-main segera mendorong miliknya ke dalam milik Minsook dengan keras.
“AKH!” Minsook pun memekik keras merasakan sakit yang sungguh luar biasa. Hingga sudut matanya menerbitkan tetesan air bening.
Sementara itu Kyuhyun tersenyum bahagia menatap ke bawah. Akhirnya tubuhnya berhasil menyatu dengan tubuh istrinya. Dapat terlihat jelas aliran darah keluar dari daerah kewanitaan sang istri. Hatinya bahagia luar biasa menerima kenyataan bahwa dirinyalah yang pertama.
“Sayang… Maaf jika aku menyakitimu.” Ucap Kyuhyun seraya menghadiahi kecupan lembut di seluruh wajah Minsook. “Terima kasih mau bertahan untukku.” Jemari Kyuhyun menyeka jejak air mata sang istri perlahan.
Rasa sakit Minsook seakan terbayar dengan ucapan tulus dari Kyuhyun. Ia memaksakan untuk tersenyum di tengah rasa sakitnya yang luar biasa. Tanpa mengatakan apa-apa Minsook menarik tengkuk Kyuhyun. Menyatukan bibir mereka. Sebuah ciuman mungkin bisa mengalihkan sedikit rasa sakitnya.
Kyuhyun menerima ciuman Minsook dengan senang hati. Membiarkan istrinya yang mendominasi. Sementara dirinya mulai menggerakkan tubuhnya dengan perlahan.
.
—oOo—
.
Pagi-pagi Minsook sudah dikejutkan oleh Kyuhyun. Ia tengah menghidangkan makanan untuk sarapan pagi di meja makan lalu dengan tiba-tiba sang suami memeluknya dari belakang.
“Pagi, sayang…” Sapa Kyuhyun seraya menumpukan dagu di sebelah bahu Minsook.
Minsook yang masih belum terbiasa dengan sikap mesra Kyuhyun padanya sedikit merasa canggung. “Pagi, sunbae.” Balas Minsook kaku.
“Eum… Minsook-ah, apa yang semalam masih terasa sakit?” Tanya Kyuhyun mengkhawatirkan akibat perbuatannya semalam.
“Masih, sunbae. Masih sedikit sakit.” Jawab Minsook jujur.
Kyuhyun mengecup lembut pipi Minsook dari samping. “Syukurlah. Hm… Mulai sekarang jangan menganggapku seperti orang lain lagi, Sookie-ya. Aku suamimu. Katakan yang sejujurnya padaku apa yang hatimu rasakan. Entah itu rasa senang, sedih, maupun kesal. Aku ingin selalu tahu semua tentangmu, Minsook-ah. Kau mengerti?” Ujar Kyuhyun membujuk Minsook agar mulai sekarang istrinya itu mau terbuka padanya. Tak ingin ada lagi tembok pembatas bagi mereka dalam berhubungan.
Minsook tersenyum haru lalu membalikkan tubuh untuk menatap suami tampannya. “Iya, sunbae. Aku mengerti.” Jawab Minsook menyunggingkan senyum terbaiknya pada sang suami.
Kyuhyun ikut tersenyum lalu menghadiahi kecupan di kening Minsook dengan rasa sayang. “Semalam pasti kau sangat kesakitan, Sookie-ya. Maafkan aku…” Ucap Kyuhyun, masih saja merasa bersalah.
Minsook menggeleng pelan. “Aku tidak apa-apa, sunbae. Kau tak perlu merasa bersalah seperti ini. Semalam adalah hal yang sangat luar biasa yang baru aku alami. Dan aku bahagia sudah menjadi istrimu sepenuhnya.” Ujar Minsook tulus.
Kyuhyun merasa terharu. Perlahan tangannya menelusup ke belakang leher Minsook. Menarik tengkuk putih istrinya itu untuk menyatukan bibir mereka. Hatinya meledak-ledak bahagia menyalurkan beribu-ribu rasa terima kasih pada istrinya itu.
Meskipun semalam Kyuhyun sudah berkali-kali menciumnya rasanya tetap sama. Minsook merasakan hatinya berbunga-bunga. Ribuan kupu-kupu seakan menari riang di atas perutnya. Rasanya sungguh mendebarkan namun membahagiakan.
Usai berciuman cukup lama, Kyuhyun beralih memeluk tubuh Minsook erat. Membenamkan wajah di bahu sang istri. “Aku…” Lalu Kyuhyun membisikkan sesuatu ke telinga Minsook. “… mencintaimu, Minsook-ah. Aku sangat mencintaimu.”
Oh Tuhan! Minsook merasa kebahagiaan yang kini ia dapatkan sungguh terasa sempurna. Tadi ia tak salah dengar, kan? Kyuhyun berkata bahwa suaminya itu mencintainya. Sungguh, tak ada kebahagiaan yang lebih indah selain mendengar langsung pernyataan itu dari suaminya sendiri.
“Minsook…” Panggil Kyuhyun tanpa melepas pelukannya.
“I–iya, sunbae.”
“Bisakah kau berhenti memanggilku sunbae? Kedengarannya sangat kaku di telingaku, Sookie-ya.”
.
—oOo—
. THE END
Tidak ada komentar:
Posting Komentar