Title : I Hate to Forget You
Author : Wintermelody (Kang Sora)
Category : Oneshot, NC21, Yadong, Romance
Main Cast : Shin Minyeong OC dan Chen EXO
Disclaimer : It’s my imagination, MINE! so don’t be ridiculous say that my fanfic is yours the cast is belong to their parents,agencies, and god.
A.N : WARNING NO PLAGIARISM, DON’T BASH, DON’T COPY without my permission. Typo bertebaran, SIDERS please go away, TRUE READERS yook merapat ^^
Chen POV
Tiga tahun sudah aku menjalin kasih dengannya, Minyeong kekasihku. Hari-hariku sejak itu selalu dipenuhi olehnya. Canda serta tawanya selalu mengiringi kehidupanku, seiring dengan bertambahnya usiaku bersamanya. Masih teringat jelas didalam pikiranku, kenanganku bersamanya, kenangan bahkan saat aku menyatakan cintaku untuknya. Memikirkannya saja sudah membuatku terlihat seperti orang yang kehilangan sehat, tersenyum sendiri memikirkannya.
Flashback ON
~Isn’t she lovely
Isn’t she wonderful
Isn’t she precious
Less than one minute old
I never thought through love we’d be
Making one as lovely as she
But isn’t she lovely made from love
Isn’t she wonderful
Isn’t she precious
Less than one minute old
I never thought through love we’d be
Making one as lovely as she
But isn’t she lovely made from love
Isn’t she pretty
Truly the angel’s best
Boy, I’m so happy
We have been heaven blessed
I can’t believe what God has done
Through us he’s given life to one
But isn’t she lovely made from love ~
Truly the angel’s best
Boy, I’m so happy
We have been heaven blessed
I can’t believe what God has done
Through us he’s given life to one
But isn’t she lovely made from love ~
She is My Minyeong~~~
Senandung ini sengaja kunyanyikan diatas panggung kecil di balkon kampus, aku menyanyikan dengan senyuman diwajahku. Apalagi saat Minyeong berdiri mematung ditengah-tengah lapangan kampus, dia mendengar namanya terselip dalam nyanyianku, memang sengaja aku menyanyikannya dan menyelipkan namamnya, saat dia menyebrangi lapangan kampus bersama teman-temannya itu.
Sudah lama sekali aku memendam cintaku ini padanya, sudah lama pula aku berdiri disebelahnya, berada dalam kehidupannya, namun semua itu hanya sebagai teman baiknya saja. Meski terlalu banyak resiko yang aku korbankan jika aku menyatakan cintaku ini, namun tekadku sungguh sangat kuat, aku takut penyesalan akan menghinggapi perasaanku saat aku terlambat menyatakan cintaku ini.
“MINYEONGAAA… AKU CINTA KAMU..!!! MAUKAH KAU MENERIMA CINTAKU DAN MENJADI KEKASIHKU!!!” teriakku dengan sekuat tenaga, saat itu aku sedang berada dibalkon koridor kampus.
Kulihat Minyeong masih tidak mencerna untaian kalimat yang kuteriakkan kepadanya, matanya melebar saat dia menyadari bahwa aku tengah menyatakan cinta padanya, kemudian dia tertawa tanpa secepatnya menjawab pertanyaanku.
“Dasar pabo, harus berapa lama aku menunggu seperti ini! Jawab aku Shin Minyeong!” teriakku lagi, meski tak sekencang teriakanku sebelumnya.
Dia menoleh kepadaku, menengadahkan kepalanya, rambutnya yang dihiasi bando berpita pink muda itu terlihat manis saat dipakai olehnya. “Coba kau turun dulu Chen, nanti aku akan memberi jawabanku padamu!” teriak Minyeong dari bawah, kedua tangannya melingkupi mulutnya agar kalimat yang keluar dari mulutnya itu terdengar jelas.
Aku tak mengerti ucapannya itu, ‘Apa susahnya sih tinggal jawab saja’ rutukku dalam hati, kesal dengan ulahnya. Meski begitu, aku tetap mengikuti instruksi dadakannya itu, aku berlari menyusuri balkon koridor itu lalu menuruni tangga kampus, meski agak cepat kuberlari namun aku tetap berhati-hati menuruni setapak demi setapak anak tangga yang tiada akhir itu (?)
Ketika aku sudah berada dilantai bawah, aku berlari menuju kearahnya yang tengah tertawa-tawa membahas pernyataan cintaku itu, “Minyeong, kenapa kau tidak jawab langsung saja sih? Aku kan jadi malu, dikiranya kau tidak menjawab pernyataan cintaku, padahal kan kalau kau langsung menjawabnya meski kau tolak akan lebih baik,” cerocosku, mengutarakan protesku padanya yang ada dihadapanku, dia hanya tersenyum simpul memancarkan kecantikannya.
“Jadi kau menolakku atau me-“
Kalimatku ini tidak bisa kuselesaikan, karena saat ini bibir Minyeong sedang mengecup lembut bibirku. Dia mencondongkan tubuhnya, agar merajut sedikit jarak yang ada diantara kami berdua. Minyeong berhasil membuatku membelalakan mataku, aku sungguh terkejut. Setidaknya jantungku saat ini hampir meledak, karena ciumannya yang mendadak itu membuat jantungku berpacu dengan sangat cepat, darahku mendesir menahan rasa gembira dan rasa gugupku yang tertahan.
Aku tahu, puluhan pasang mata sahabat, teman dan bahkan junior dikampusku sedang melihat tontonan gratis yang sangat langka ini, aku melupakan rasa maluku, justru saat dia mencoba melepaskan ciumannya dalam waktu yang singkat itu, giliran aku yang menciumnya dengan lembut, pagutan kami kembali bertemu. Saat ini, tangannya yang memegangi buku kuliah pun melingkar dileherku, dia sangat menikmati ciuman pertama kami berdua yang cukup intens ini, aku pun tak mau kalah darinya, tanganku dengan sigap melingkar dipinggangnya. Tak lama setelahnya, kami berdua melepas ciuman kami yang cukup singkat itu.
“Aku juga mencintaimu Chen, sudah lama aku menunggumu menyatakan cintamu padaku. Kau tahu? Aku sudah tahu kau mencintaiku, sejak tahun pertama kita bertemu kan?” ujar Minyeong, senyuman tak pernah lepas dari wajahnya yang mungil itu.
“Kau tahu?!!” ujarku agak kaget dengan ucapannya itu, “Bagaimana bisa kau tahu itu?” rasa penasaranku muncul secara tiba-tiba.
“Hanya yeoja bodoh yang tidak tahu sinyalmu yang kentara itu Chen!” desis Tiffany, yang sedari tadi menyaksikan keromantisan kami berdua.
Aku hanya bisa menggaruk-garuk kepalaku yang tidak gatal, sama sekali tidak bisa kupikirkan bagaimana Minyeong bisa mengetahuinya. “Iya Chen, yeoja mana yang tidak tahu, setiap kita bermain bersama kau selalu memandanginya. Siap siaga saat dia membutuhkan apapun, kau sangat menjaganya, seakan-akan dia rapuh saja,” dengus Sunny, ledekannya itu tak kalah dengan ledekan Tiffany sebelumnya. Sebelum mereka aku usir, sepertinya mereka sudah sangat mengerti. Kulihat keduanya sudah berjalan menjauh, dan meninggalkan Minyeong yang saat ini tak hentinya memandangi wajahku, membuatku tersipu malu. ‘Ah, dia selalu saja begini, membuatku gugup’
Flashback OFF
Saat ini aku tengah memandangi wajahnya yang sedang tertidur pulas, wajah malaikat mana yang kau curi itu Shin Minyeong. Kecantikanmu itu memancar, bahkan saat kau tertidurpun auramu tetap bisa terasa. Perlahan kusapu wajahnya yang lembut itu, kukecup ringan bibirnya itu. “Minyeong-ya.., kau sudah terlalu lama tertidur, Ayo bangun,”bisikku dibelakang telinganya itu.
“Argh..” dia mengerang pelan saat matanya yang terbuka perlahan itu terkena kilauan cahaya matahari, dia kemudian meregangkan tangannya, merentangkannya. Melihat semua itu membuatku merasa puas, lalu kopi yang tengah kupegang sedari tadi kuberikan padanya, “Ini, minumlah, Caramel Machiato kesukaanmu,” ujarku lembut padanya, tangannya yang sedang sibuk membereskan rambutnya yang berantakan itu otomatis menerima gelas yang berisi minuman favoritnya itu.
“Gomawo chagi,” ujarnya pelan, tenggorokannya masih terasa kering rupanya.
“Sekarang jam berapa?” tanyanya lagi.
“Sekarang jam 10 lebih 5 menit sayang,” sahutku sambil beranjak pergi, menuju dapur dimana sudah kusiapkan sarapan untuknya.
Minyeong yang sudah cukup mengembalikan kesadarannya itu mengikutiku dari belakang, “Sayang, hari ini kan hari minggu” ucapnya manja. Dia memelukku dari belakang matanya terlihat manja dan berbinar saat aku menoleh kebelakang menghadapnya.
“Aigoo, kyeopta..” ujarku saat aku membalikkan tubuhku menghadapnya membuatku bisa mengacak-ngacak pelan rambutnya,
Minyeong terlihat tidak menyukai sikapku itu, hehehe. Dia merengut kesal sambil mengerucutkan bibirnya itu. “Kau sungguh menggodaku,” ujarku lagi, “Memangnya kenapa jika tergoda?” cibir Minyeong, tangannya melingkar lagi dipinggangku.
“Sayang, bagaimana bisa aku membawa sarapan untuk kita berdua jika kau terus seperti ini,” protesku sambil mencubit hidung yang menggemaskan itu pelan, membuat Minyeong meringis sebentar lalu membalas cubitanku itu. “AWW!!” teriakku, sambil menjauhkan tubuhku darinya, dia mencubit pinggangku cukup kencang.
“Kau nakal ya aku jadi ingin melanjutkan yang surga semalam” aku memicingkan mataku padanya, sambil tersenyum dan menyiratkan seringaianku padanya, Minyeong hanya bergidik pelan. “Ah sudahlah, aku mau mandi. Kau siapkan makanannya Chen” Dia menghindariku, huh. Aku tersenyum memandangi punggungnya yang berjalan menjauh menuju kearah kamar mandi. Bukan Chen namanya jika aku tidak bisa mengganggu acaranya untuk bermain busa di kamar mandinya. Sedikit menjinjitkan kakiku aku dengan segera mengikutinya ke kamar main dan bersembunyi dibelakang pintu kamar mandi tepat disaat dia sedang mengambil handuknya di lemari tak jauh dari situ.
HAAP!
BLAAR! Segera kututup pintu kamar mandi Minyeong yang masih terkaget-kaget dengan kejailanku pun melebarkan matanya. “Neo! Sedang apa kau disini? Bukankah tadi aku sudah memintamu untuk menyiapkan makanan?” rengutnya. Tapi aku tak memedulikan segala bentuk protes yang keluar dari mulut mungil nan menggoda milik yeojaku itu. Kudekap tubuhnya yang aduhai dari belakang dengan kedua tanganku yang asyik memainkan kedua buah gunung perkasa yang belum tegang milik Minyeong, “Tubuh benar-benar selalu membuatku tergoda sayang,” bisikku sambil menciumi tengkuk belakangnya dengan lembut.
“Ayo mandi bersama,” seruku sementara Minyeong terlihat datar saja tanpa ekspresi melihat kegiranganku mendapat jatah di pagi hari. Langsung kupeluk lagi Minyeong dari belakang tepat di depan shower kamar mandi. Kusibakkan rambutnya yang berwarna brunette kemerahan, kuciumi leher belakangnya, sambil tangan kiriku mengusap-usap pinggulnya yang masih terbungkus rok mini yang sembarang dia pakai di pagi hari. Terdengar desahan Minyeong, sebelum dia memutar badan menghadapku. Kedua tangannya dilingkarkan ke leherku dan akhirnya Minyeong pun dengan segera memasuki dunia indah yang dinantikan sedari tadi olehku.
Setelah itu diangkatnya kaosku, dilepaskannya sehingga aku bertelanjang dada. Kemudian tangannya langsung membuka kancing dan resleting jeans-ku. Lumayan cekatan Minyeong melakukannya karena sebelumnya aku sudah mengajarkan hal yang membuatku nikmat dengan melakukan pergumulan dalam tempo yang cepat. Seterusnya aku sendiri yang melakukannya sampai aku sempurna telanjang bulat di depannya.
Dengan cekatan akupun segera mencari pengait bra yang selama ini menghalangi birahiku untuk segera mengulum dan menarik puting Minyeong yang sudah sangat aku rindukan. “Pengait bra nya ada didepan sayang,” gumam Minyeong ditengah-tengah desahannya karena sedari tadi tanganku ini tak berhenti meremas-remas dadanya meski masih terbalut oleh bra hitam kesukaanku. Minyeong tidak berhenti mendesah sambil tangannya mengusap-usap rambutku. Aku makin bersemangat saja, mulutku makin rajin menggarap payudaranya sebelah kanan dan kiri bergantian. Kukulum, kumainkan dengan lidah dan kadang kugigit kecil. Akibat seranganku yang makin intens itu Minyeong mulai menjerit-jerit kecil di sela-sela desahannya.
Beberapa menit kulakukan aksi yang sangat dinikmati Minyeong itu, sebelum akhirnya dia mendorong kepalaku agar terlepas dari payudaranya. Minyeong kemudian melepas bra, rok mini dan celana dalamnya yang juga berwarna hitam. Sementara bibirnya nampak setengah terbuka membengkak kemerahan sambil mendesis lirih dan matanya sudah mulai sayu, pertanda sudah sangat bergairah. Belum sempat mataku menikmati tubuhnya yang sudah telanjang bulat, tangan kananya sudah menggenggam juniorku. Kemudian Minyeong berjalan mundur masuk kamar mandi sementara juniorku ditariknya. Aku meringis menahan rasa sakit, sekaligus ingin tertawa melihat perlakuan Minyeong yang ganas seperti itu.
“Katanya tadi mau mandi, tapi setelah aku ajak main kau mau saja sayang,” godaku padanya hingga semburat kemerahan terlihat jelas. Minyeong langsung menghidupkan shower. Diteruskannya dengan menarik dan memelukku tepat di bawah siraman air dari shower.
“mmmmppppphhhh …. “ bibirnya sudah menyerbu bibirku dan melumatnya. Kuimbangi dengan aksi serupa. Seterusnya, siraman air shower mengguyur kepala, bibir bertemu bibir, lidah saling mengait, tubuh bagian depan menempel ketat dan sesekali saling menggesek, kedua tangan mengusap-usap bagian belakang tubuh pasangan, “Aaaaaahhh,” nikmat luar biasa.
Tak ingat berapa lama kami melakukan aksi seperti itu, kami melanjutkannya dalam posisi duduk, tak ingat persis siapa yang mulai. Aku duduk bersandar pada dinding kamar mandi, kali ku luruskan, sementar Minyeong duduk di atas pahaku, lututnya menyentuh lantai kamar mandi. Kemudian kurasakan Minyeong melepaskan bibirnya dari bibirku, pelahan menyusur ke bawah. Berhenti di leherku, lidahnya beraksi menjilati leherku, berpindah-pindah. Setelah itu, dilanjutkan ke bawah lagi, berhenti di dadaku. Sebelah kanan-kiri, tengah jadi sasaran lidah dan bibirnya. Kemudian turun lagi ke bawah, ke perut, berhenti di pusar. Tangannya menggenggam juniorku yang sudah sangat tegak berdiri, didorong sedikit ke samping dengan lembut, sementara lidahnya terus mempermainkan pusarku. Sementara lidahnya beraksi di sana, tangan kanannya mengusap-usap kepala juniorku dengan lembut. Aku sampai berkelojotan sambil mengerang-erang menikmati aksi Minyeong yang seperti itu.
Pelahan-lahan bibirnya merayap naik menyusuri batang juniorku, dan berhenti di bagian kepala, sementara tangannya ganti menggenggam bagian batang. Kepala juniorku dikulumnya, dijilati, berpindah dan berputar-putar, sehingga tak satu bagianpun yang terlewat. Beberapa saat kemudian, kutekan kepala Minyeong ke bawah, sehingga bagian batanku pun masuk 2/3 ke mulutnya. Digerakkannya kepalanya naik turun pelahan-lahan, berkali-kali. Kadang-kadang aksinya berhenti sejenak di bagian kepala, dijilati lagi, kemudian diteruskan naik turun lagi. Pertahananku nyaris jebol, tapi aku belum mau terjadi saat itu. Kutahan kepalanya, kuangkat pelan, tapi Minyeong seperti melawan. Hal itu terjadi beberapa kali, sampai akhirnya aku berhasil mengangkat kepalanya dan melepas juniorku dari mulutnya.
Kuangkat kepala Minyeong, sementara matanya terpejam. Kudekatkan, dan kukulum lembut bibirnya. Pelan-pelan kurebahkan Minyeong yang masih memejamkan mata sambil mendesis itu ke lantai kamar mandi. Kutindih sambil mulutku melahap kedua payudaranya, sementara tanganku meremasnya bergantian.
Erangannya, desahannya, jeritan-jeritan kecilnya bersahut-sahutan di tengah gemericik siraman air shower. Kuturunkan lagi mulutku, berhenti di gundukan yang ditumbuhi bulu lebat, namun tercukur dan tertata rapi. Beberapa kali kugigit pelan bulu-bulu itu, sehingga pemiliknya menggelinjang ke kanan kiri. Kemudian kupisahkan kedua pahanya yang putih,besar dan empuk itu. Kubuka lebar-lebar. Kudaratkan bibirku di bibir vaginanya, kukecup pelan. Kujulurkan lidahku, kutusuk-tusukan pelan ke klitoris di antar belahan vagina Minyeong.
Pantat Minyeong mulai bergoyang-goyang pelahan, sementara tangannya menjambak atau lebih tepatnya meremas rambutku, karena jambakannya lembut dan tidak menyakitkan. Kumasukkan jari tengahku ku lubang vaginanya, ku keluar masukkan dengan pelan. Desisan Minyeong makin panjang, dan sempat ku lirik matanya masih terpejam. Kupercepat gerakan jariku di dalam lubang vaginanya, tapi tangannya langsung meraih tanganku yang sedang beraksi itu dan menahannya. Kupelankan lagi, dan Mbak melepas tangannya dari tanganku. Setiap kupercepat lagi, tangan Minyeong meraih tanganku lagi, sehingga akhirnya aku mengerti dia hanya mau jariku bergerak pelahan di dalam vaginanya.
Beberapa menit kemudian, kurasakan Minyeong mengangkat kepalaku menjauhkan dari vaginanya. Minyeong membuka mata dan memberi isyarat padaku agar duduk bersandar di dinding kamar mandi. Seterusnya merayap ke atasku, mengangkang tepat di depanku. Tangannya meraih juniorku, diarahkan dan dimasukkan ke dalam lubang vaginanya.
“Oooooooooooohh ,” Minyeong melenguh panjang dan matanya kembali terpejam saat juniorku masuk seluruhnya ke dalam vaginanya. Minyeong mulai bergerak naik-turun pelahan sambil sesekali pinggulnya membuat gerakan memutar. Aku tidak sabar menghadapi aksi Minyeong yang menurutku terlalu pelahan itu, mulai kusodok-sodokkan juniorku dari bawah dengan cukup cepat. Minyeong menghentikan gerakannya, tangannya menekan dadaku cukup kuat sambil kepala menggeleng, seperti melarangku melakukan aksi sodok itu. Hal itu terjadi beberapa kali, yang sebenarnya membuatku agak kecewa, sampai akhirnya Minyeong membuka matanya, tangannya mengusap kedua mataku seperti menyuruhkan memejamkan mata. Aku menurut dan memejamkan mataku.
Setelah beberapa saat aku memejamkan mata, aku mulai bisa memperhatikan dengan telingaku apa yang dari tadi tidak kuperhatikan, aku mulai bisa merasakan apa yang dari tadi tidak kurasakan. “Saranghae Chen,” desahnya desahan dan erangan Minyeong ternyata sangat teratur dan serasi dengan gerakan pantatnya,sehingga suara dari mulutnya, suara alat kelamin kami yang menyatu dan suara siraman air shower seperti sebuah harmoni yang begitu indah. Dalam keterpejaman mata itu, aku seperti melayang-layang dan sekelilingku terasa begitu indah, seperti nama wanita yang sedang menyatu denganku. Kenikmatan yang kurasakan pun terasa lain, bukan kenikmatan luar biasa yang menhentak-hentak, tapi kenikmatan yang sedikit-sedikit, seperti mengalir pelahan di seluruh syarafku, dan mengendap sampai ke ulu hatiku.
Beberapa menit kemudian gerakan Minyeong berhenti pas saat juniorku amblas seluruhnya. Ada sekitar 5 detik dia diam saja dalam posisi seperti itu. Kemudian kedua tangannya meraih kedua tanganku sambil melontarkan kepalanya ke belakang. Kubuka mataku, kupegang kuat-kuat kedua telapak tangannya dan kutahan agar Minyeong tidak jatuh ke belakang. Setelah itu pantatnya membuat gerakan ke kanan-kiri dan terasa menekan-nekan junior dan pantatku.
“Aaa .. aaaaaa … aaaaaaaaaaaaahhhhhhhhhhhhhh,” desahan dan jeritan kecil Minyeong itu disertai kepala dan tubuhnya yang bergerak ke depan. Minyeong menjatuhkan diri padaku seperti menubruk, tangannya memeluk tubukku, sedang kepalanya bersandar di bahu kiriku. Ku balas memeluknya dan kubelai-belai Minyeong yang baru saja menikmati orgasmenya. Sebuah cara orgasme yang eksotik dan artistik.
Setelah puas meresapi kenikmatan yang baru diraihnya, Minyeong mengangkat kepala dan membuka matanya. Dia tersenyum yang diteruskan mencium bibirku dengan lembut. Belum sempat aku membalas ciumannya, Minyeong sudah bangkit dan bergeser ke samping. Segera kubimbing dia agar rebahan dan telentang di lantai kamar mandi. Minyeong mengikuti kemauanku sambil terus menatapku dengan senyum yang tidak pernah lepas dari bibirnya. Kemudian kuarahkan juniorku yang rasanya seperti berkedut-kedut ke lubang vaginanya, kumasukkan seluruhnya. Setelah amblas semuanya Minyeong melirikkuku sambil berbisik pelan.
“Jangan di dalam ya sayang, aku belum minum obat,” aku mengangguk pelan mengerti maksudnya. Setelah itu mulai kugoyang-goyang pantatku pelan-pelan sambil kupejamkan mata. Aku ingin merasakan kembali kenikmatan yang sedikit-sedikit tapi meresap sampai ke ulu hati seperti sebelumnya. Tapi aku gagal, meski beberapa lama mencoba. Akhirnya aku membuat gerakan seperti biasa, seperti yang biasa kulakukan pada tante Ani atau Nita. Bergerak maju mundur dari pelan dan makin lama makin cepat.
“Aaaah… Hoooohh,” aku hampir pada puncak, dan Minyeong cukup cekatan. Didorongnya tubuhku sehingga juniorku terlepas dari vaginanya. Rupanya dia tahu tidak mampu mengontrol diriku dan lupa pada pesannya. Seterusnya tangannya meraih juniorku sambil setengah bangun. Dikocok-kocoknya dengan gengaman yang cukup kuat, seterusnya aku bergeser ke depan sehingga juniorku tepat berada di atas perut Minyeong.
“Aaaaaaaah … aaaaaaahhh … crottt… crotttt ..,” beberapa kali spermaku muncrat membasahi dada dan perut Minyeong. Aku merebahku tubuhku yang terasa lemas di samping Minyeong, sambil memandanginya yang asyik mengusap meratakan spermaku di tubuhnya.
“Saranghae sayang,”
“Nado, saranghae Minyeong-ah,” jawabku sambil mengecup pelan dahinya.
.
.
.
Makanan yang kusiapkan untuknya, membuat perut kami berdua terisi penuh,”As alwayschagi, makanan buatanmu adalah yang terbaik!!” seru Minyeong sambil mengacungkan dua jempolnya, kemudian dia kembali sibuk mengusap-usap perutnya yang sudah kekenyangan itu.
“Bagaimana jika sedikit berjalan-jalan chagi?” ajak Minyeong,”Kau tidak mau kan calon istrimu saat pernikahan nanti menjadi gemuk?” lanjutnya lagi, membuatku yang sedikit mengantuk ini, hanya bisa mengangguk pasrah setuju dengan ajakannya itu.
.
.
.
Suasana sore sudah sangat terlihat saat kami berdua menyusuri trotoar disamping jalanan besar Seoul, matahari yang akan beranjak keperaduannya itu masih menyisakan kilauan cahaya lembayung senjanya yang berwarna keoranye-oranyean. Minyeong, menggelayutkan tangannya, bersikap manja terhadapku. Sikapnya ini memang tidak pernah berubah selama dia menjadi kekasihku, membuatku ingin selalu memanjakannya.
“Chagi, aku ingin membeli roti itu,” rajuknya saat melihat toko bakery, yang tidak jauh dari tempat kami berjalan, aku tidak terlalu memerhatikannya, sebuah jam tangan keluaran terbaru sangat menarik perhatianku, seorang pencinta jam tangan. Saat aku lupa akan keberadaan Minyeong, aku memasuki toko jam tangan tersebut, kupikir dia mengikutiku. Hanya saja setelah itu terdengar suara yang sangat kencang dari arah jalan,
“Ada kecelakaan terjadi!” seru orang-orang yang berada diluar, membuat orang-orang lain kemudian berhamburan melihat ke lokasi kejadian kecelakaan tersebut, akupun ikut tertarik untuk melihatnya, terlebih saat aku baru menyadari bahwa aku tidak bisa menemukan keberadaan Minyeong didalam toko jam tangan ini.
“Minyeong!” pekikku kemudian, saat kulihat calon istriku sedang terkapar tak berdaya, diatas jalanan yang beraspal. Darah pekat kemerah-merahan itu terlihat mengalir dari kepalany yang terantuk, tubuhnya masih terkejang-kejang saat aku menghampirinya, aku langsung memeluk tubuhnya itu didalam pangkuanku, “Tolong panggil ambulans,”raungku melihat para pejalan kaki lainnya hanya memandangi kami berdua.
“Maa..maa..maaf saa…yang..” suaranya yang kecil itu terdengar terbata-bata, membuatku semakin mendekatkan wajahnya kearah telingaku, agar aku bisa mendengar suaranya dengan jelas.”A..Aku.. ti..ti…ti..dak..bi..sa..men..jadi..pe..ngan..tinmu..” ucapnya lagi, airmatanya meleleh tepat mengenai kemeja yang kukenakan, “To…long… lu..pa..kan..a…aku..” ucapnya lagi, sebelum kedua matanya kembali terpejam, meski airmatanya tak berhenti mengaliri pipinya secara tidak beraturan.
“TIDAK!!!”
“MINYEONGAAAA!!!” pekikku sambil terisak menatap tubuh Minyeong yang masih hangat dipelukanku itu, aku tidak bisa berhenti meratapi tubuhnya yang perlahan mulai mendingin.
.
.
.
Author POV
Η————————Í
“Lihat!” seru seorang namja, wajahnya dihiasi oleh kacamata tebal, tubuhnya yang kurus itu terbaluti jubah putih. Matanya memicing saat memandangi seseorang yang ada didalam sebuah ruangan, dimana semuanya berwarna putih, erangan terdengar lagi dari namja tersebut, kemudian tangisnya terdengar sedu sedan, entah apa yang ada dipikirannya.
“Kurasa dia sungguh mencintai calon istrinya itu,” ujar namja lainnya, yang sedang menemani namja berperawakan jangkung, namja itu adalah Sehun. Sementara namja yang satunya lagi, hanya memandangi Chen yang berteriak mengerang itu, dengan wajah datarnya, meski mata rusanya itu tak berhenti berbinar, menyiratkan sejuta pertanyaan dengan sikap pasien yang ada diruangan khusus itu.
“Sudah berapa lama pasien bernama Chen itu seperti ini?” tanya Luhan, mata rusanya memandang erat Sehun yang masih memandangi Chen.
Tanpa menoleh menghadap wajah sahabatnya itu, Sehun menjawabnya pelan,”Sudah tiga bulan dia seperti ini,” desahan kembali terurai dari bibirnya yang mungil itu, kedua tangannya ia masukkan kedalam saku jubah yang sedari tadi dia kenakan.
“Jadi, dia sudah lama seperti ini,”tanyanya lagi, kedua alisnya bertautan, memikirkan kronologis yang sebelumnya Sehun jelaskan padanya, dia memang seorang dokter psikologis, sama seperti Sehun. Hanya saja, saat Chen mendatangi sahabatnya Sehun, dia sedang mengikuti seminar pelatihan di Jerman, karena itulah Luhan saat ini sedang mencoba menelaah kembali riwayat pasiennya itu.
Sehun berhenti memandangi Chen yang saat ini sedang tertawa sendirian, “Sebelumnya dia tidak sesakit ini, Luhan-ah,” ujarnya lagi menatap Luhan yang dengan seriusnya mendengarkan ceritanya itu,”Sebelumnya dia seperti orang normal pada umumnya, namun setelah dia melihat sebuah kecelakaan saat dia pulang dari klinikku, jiwanya kembali terganggu.” Jelasnya kembali.
Luhan yang mendengar penjelasannya itu hanya bisa menganggukan kepalanya pelan, “Dia, “ kalimat Sehun terpotong ditengah-tengah, “Saat ini mengingat bahwa calon istrinya itu meninggal karena kecelakaan lalu lintas, Luhan-ah,”
Kening Luhan kembali berkerut, “Kenapa jadi seperti itu? bukankah calon istrinya meninggal bukan karena kecelakaan lalu lintas, Sehun-ah?” pertanyaan Luhan kali ini menohok Sehun, Sehun sebagai seorang dokter psikologis merasa dirinya sudah gagal membawa Chen pada kehidupannya yang normal, justru Chen semakin sakit, emosinya bahkan sudah tidak terkendali.
“Dia tidak mengingat bahwa calon istrinya itu meninggal karena kanker paru-paru yang dideritanya, sungguh miris Sehun-ah,” ucap Luhan,”Tapi, jika kondisi kejiwaannya sudah seperti ini, kurasa tidak ada yang bisa kita lakukan,” pungkasnya, pasrah dengan kondisi kejiwaan pasien yang sudah melebihi batas kemampuannya sebagai dokter itu.
Sehun hanya memandangi sahabatnya yang meelangkahkan kakinya, menuju arah pintu rumah sakit jiwa milik ayahnya, Dr. Oh Jihoon. “Maafkan aku Chen, aku tidak bisa berbuat apa-apa untukmu,”ujarnya lagi, tangannya dia tempelkan kearah kaca yang menajdi pembatas dirinya dan Chen, terlihat dari ruangan yang serba berwarna putih itu Chen sedang bermain dengan imajinasinya, seolah-olah Minyeong sedang berada disampingnya, bersamanya selamanya.
-Aku, Chen.. namja yang mencintaimu, akan sangat membenci sesuatu yang paling tidak aku sukai, apalagi jika aku harus melakukan yang tidak aku inginkan. Aku benci untuk melupakanmu, Shin Minyeong. Satu hal yang bisa aku lakukan untukmu saat ini, mencintaimu sepanjang hayatku dan tidak melupakanmu, seseorang yang ada dalam kehidupanku. Mewarnai hidupku dengan senyumanmu itu.-
THE END
Tidak ada komentar:
Posting Komentar