Author : J.D.N
Title : Intuition
Category: Oneshot, Yadong, schoollife, romance, NC21
Cast :
Byun baekhyun
kang choco
oh sehun
Kai
Bikin ff lagi nge-butt (?) eh ternyata jadi, karena author gak suka kata yang beribet alias K.I.S.S (Keep It Simple, Stupid) author ngindari kata yang terlalu berat maka dari itu sebisa mungkin author menulis dengan istilah yang lebih banyak orang tahu. Semakin simple, semakin baik. Karena menulis bukan untuk nunjukkin kepintaran dan ngerti banyak kata – kata aneh, tapi untuk menujukkan ini ff lebih efektif aja buat dibaca.
Pov choco
“kopi pertama hari ini, seperti selingkuh tanpa ada tanda bahaya” Dia menyidirku lagi, byun baekhyun namja maniac coffee suami sahku akibat perjodohan eomma kami. Baekhyun seperti ini mungkin karena aku duduk dengan sehun dan kai dua namja yang selalu bersamaku, apa salah bila aku dekat dengan mereka lagi pula aku juga tidak melakukan apapun dengan mereka. Biarkan sajalah.
“choco-ahh… gimana kalau malam ini kita pesta barbeque, pesta pajama juga, kau mau?” kai merangkulku dan sehun menyenderkan kepalanya di pundakku. “aku harus pulang kau tau kan dia selalu melarangku!” ucapku manja pada kai, sambil menyindir balik baekhyun yang tengah menyesap cup kopinya dengan tenang di bangku depan kami.
Jam pelajaran hari ini berakhir seperti biasa dengan sangat membosankan, untung saja ada sehun dan kai yang selalu membuatku tertawa. kelas sekarang sedikit sepi, hanya ada beberapa orang dikelas dan si maniak kopi itu masih juga duduk manis.
“kang choco kau pulang denganku!” baekhyun menarik tanganku paksa, aku menatapnya datar tak bisa berbuat apapun, eomma sedang dirumah tak mungkin kalau kami pulang sendiri – sendiri. kai dan sehun mengendus kesal dengan tingkah baekhyun. mereka juga tak dapat melakukan apapun mereka tahu baekhyun suamiku.
Dan apa sekarang menunggu di mobil baekhyun dengan bosan, dia sedang membeli kopi lagi. mobilnya sangat membosankan, mobil moderen tapi seperti mobil presiden sangat resmi sekali.
“kopi siang ini, terlalu manis. Seperti dua orang yg sedang melakukan pendekatan, penuh dengan kepalsuan. kau sudah mengertikan apa yang harus kita lakukan saat di rumah, eomma akan menginap 2 hari, dan aboji datang besok.”
Apa peduliku? kubuang muka menghadap jendela luar, pemandangan di luar lebih tenang daripada melihat wajah kopi baekhyun. 2 hari menjadi istri yang baik dan patuh pada baekhyun. Apa dia bercanda?, oh kang choco kau harus sabar.
“yeobo kajja makan,..” dia berteriak dari dapur membantu ibu tersayangnya menyiapkan makan malam, seharusnya aku tapi karena aku tidur saat pulang dan lupa melakukan tugasku menjadi istri yang baik.biarkan saja.
“nde.. changi-ah..”
Kami makan bertiga dengan eomma menatap gembira kami yang duduk berdampingan, aku dan baekhyun tersenyum manis tapi kurasa senyumnya itu sangat aneh untuk dilihat.
“kapan kalian memberiku cucu?” eomma membuka suaranya saat dia selesai makan menatap dengan senyum keibuannya. Cantik, mertuaku sangat cantik walau tak memakai make up.
“ah eomma.. apa yang eomma katakan? Aku tak mengerti!”
“aihh.. berapa umurmu byun baekhyun masa nggak tahu, choco saja tau, iyakan choco?”
“nde.. nde.. eommanim..”
kenapa aku gugup, tapi satu hal yang paling kutakutkan ya seperti ini,saat orang tuanya menuntut hasil dari pernikahan kami sebulan lalu. kenapa bisa aku menikah dengan namja seperti baekhyun? Namja yang tak pernah kutemui, kami pertama kali bertemu di pemberkatan. Mau bagaimana lagi ini sudah jalankmu kang choco. Tersiksa.
Malam semakin larut bulan tampak sempurna, aku tak nyaman dengan yang kulakukan sekarang, aku tak tau bagaimana perasaanku pada baekhyun, dia sangat dingin tapi mengingat seminggu lalu.
Flashback
“jebalyo sekali saja choco, aku janji gak ada tangan nakal..” pinta kai dengan matanya yang dibuat sedih, apa yang kai minta? dia meminta ciuman dariku agar membantunya melepaskan kekasihnya.
“ apakah aku mengganggu acara paksa ini kai-ssi?”
“ kau bisa melepaskan diakan aku harus pulang dengan gadis bodoh ini.”
Baekhyun menarikku dari kurungan kai. Sejak saat itu aku berpikir baekhyun itu berbeda, dia dia tak bisa ditebak…
Flashback end
“kopi malam ini. Satu rasa, setiap hari. Seperti tahu saatnya berhenti mencari.” Suara merdu baekhyun sedang memecah keheningan malam, ia meletakkan kopi dimeja samping balkon, tangannya menyentuhku lalu memeluk tubuhku, apa yang dia lakukan? Perlahan kubuka untuk lepas tangannya tapi kembali mengencangkan.
“eomma sedang mengintai di jendela samping balkon!” lirihnya tepat di telingaku, bibirnya perlahan turun menyusuri tengkukku mengecupnya pelan, aku hanya meremas tanganya yang mengikat pinggangku.
Kubalikkan badan menatap baekhyun lebih tepatnya melihat bibirnya yang tipis. kutarik tengkuknya mencium bibirnya hanya menempelkan cukup dalam rasa kopi. Aku tahu baekhyun terkejut dengan yang kulakukan perlahan baekhyun meremas dan meraba punggungku, aku kira dia hanya diam.
kudorong baekhyun masuk kedalam kamar meninggalkan balkon. Kujauhkan bibirku darinya, baekhyun mematung di depan pintu balkon, seolah habis kesetrum sesuatu, sedangkan aku mencuci muka dan pergi untuk tidur. Kami memang tidur satu ranjang dan tak ada hal lain kecuali tidur saja.
Aigoo Ciuman pertamaku byun baekhyun? Aku merasa mencium bubuk kopi.
Choco pov end
Pov baekhyun
“pagi sayang apa semalam berjalan dengan lancar?”
eomma tersenyum menuangkan segelas kopi untukku dan susu untuk choco, sejak kapan choco minum susu? dan eomma pasti berfikir setelah kami lakukan berlanjut pada hal fatal.
Choco duduk menatapku matanya bertanya susu apa itu?, hanya bisa menatap malas aku juga tak tau harus bilang apa. Choco mulai meminum susunya “rasanya aneh” terpampang jelas sekali.
“ kajja.. habiskan.. susu ini bagus untuk menyuburkan kandunganmu choco, aku tak ingin ada sisa arra…”
Eomma meninggalkan kami berdua untuk mandi karna ada rapat direksi hari ini.
“Baekhyun..”
“wae…”
“bantu aku habiskan.. perutku terasa mual minum ini.”
Choco memberikan gelas susunya padaku, aku menatap matannya tajam ia menundukkan wajahnya.
apa aku harus minum susu ini? Aihh ini susu untuk kandungan, tak akan terjadi sesuatu kalau aku meminumnya? Tapi kalau aku buang eomma pasti tau bau susu ini sangat menyengat.
“tidak bisa.. kau saja. Susunya sangat menyengat aku tak bisa meminummnya!” ku minum lagi kopiku sambil membaca Koran pagi ini.
“sudahlah jangan mencari alasan baekhyun-ssi, akan kupikirkan lanjutannya.” Segelas susu formula ibu untuk penyubur kandungan benar – benar ada di tanganku, ku tatap choco dengan tampang ragu, dia tersenyum memberikanku semangat, tegukkan pertama terasa tak enak..
“choco –ah sudah kau habiskan susunya?” teriak eomma dari dalam kamar.
Aku dan choco kaget buka main dengan cepat aku meminum susu digelas ini. Aku yakin 2 menit lagi eomma pasti turun.
“akkhh… rasanya aneh seka……”dengan cepat choco membungkam bibirku hanya menempelkan, seperti semalam, aku mematung seperti semalam dengan tingkah choco bagaimana bisa sepagi ini dia sudah menciumku seenaknya.
“astaga.. kalian apa tidak sadar ada orang tua disini? Aihh bau kalian susu formula!” ucap eomma saat lewat di belakang kami menuju dapur mengambil sesuatu, buru – buru choco melepaskan tautan bibirnya, lihatlah dia yang memulai kenapa dia harus malu dasar gadis bodoh. ini trik agar tak ketahuan sudah meminum susu miliknya bocah ini pintar juga. Dan kenapa hawanya disini terasa sangat panas sekali, ini masih pagi.
“choco-ahhh…. Kajja kekantin, aku lapparrrr!!” panggil sehun saat choco keluar dari mobilku, aih ini bocah cadel apa tak lihat suaminya sedang bersamanya?. Kugenggam tangan choco masuk kedalam kelas, aku bisa lihat ekspresi tak suka dari mereka, apa peduliku? Dia istriku, aku berhak dan choco hanya memasang wajah datar saat duduk di sampingku.
“apa yang kau lakukan baekhyun-ssi” dia membuka suara saat kami sudah di mobil lagi, persiapan untuk pulang memang pagi ini kelas hanya 2 jam. Aku tak perduli kulajukan mobilku meninggalkan area kampus dan seperti biasa aku mampir ke kedai untuk membeli kopi.
kuperhatikan choco dari dalam menunggu pesananku datang, ia tampak memainkan smartphonenya, aku rasa choco sedang ber-chat ria dengan kedua teman gilanya itu.
“kopi pertama siang ini. Dingin seperti ditinggalkan orang ynag tepat, karena sibuk mencoba yang lain di saat bersamaan.” Kulajukan kembali mobil, choco masih asyik dengan smartphonenya.
apa dia mengacuhkanku, Walaupun dia tak bicara banyak dengan setidaknya dia akan menatapku sebentar tapi ini tidak sama sekali.menyebalkan, padahal dia sudah menciumku dua kali.
Baekhyun pov end
Choco pov
Seharian aku berchat ria dengan kai dan sehun, sampai aku tak sadar waktu menunjukkan pukul 4 sore.
Omona!! Eomma akan pulang dan aku belum masak untuk makan malam dan hari ini aboji juga menginap, kulihat baekhyun sedang menutup matanya tenang apa dia lelah? dia bahkan tak melakukan apapun selain tidur.
“baekhyun-ssi ireona..”
“waeyo?”
“kajja kedapur bantu aku memasak!” ia mulai mengekoriku dengan lenguhan ngantuk dari bibir tipisnya.
Kubuatkan kopi untuk baekhyun, ya ini memang pertama kalinya aku membuatkan baekhyun secangkir kopi, aku bahkan berhati – hati menakar kopi,krim,dan gula.
“kopi pertama di sore hari. Pahit, gelap,pekat. Seperti dosa yang ditutupi dengan rapi.”Baekhyun kembali memotong – motong bawang untukku masak, setelah menyesap kopi yang kubuat. “ kopi pertama di sore hari. Pahit, gelap,pekat. Seperti dosa yang ditutupi dengan rapi.” Apa yang dimaksud baekhyun. Aku memang pertama kalinya membuatkan kopi untukknya tapi apakah terasa pahit? maksud dosa yang sudah ditutupi dengan rapi? aku tak paham.
Tak ada percakapan diatara kami.
Aku mencuci cumi –cumi dan ayam. Haihh, kenapa rasanya aku seperti ibu rumah tangga sungguhan. setelah mencuci kusuruh baekhyun memotong – motong apa yang sudah kucuci. Ku mulai memasak, memasukkan bahan – bahan kedalam panci untuk membuat soup seefood pedas.
Tiba-tiba saja tangan baekhyun melingkar di pinggangku dengan ringan membutku mematung, hampir saja aku akan menjatuhkan pengaduk sup ini.
“mereka sudah datang, dan mereka mengintip kita sejak tadi.” Ucap baekhyun lirih di telingaku, membuat buluku meremang. aku harus tenang, ku aduk–aduk kembali sambil tersenyum dan sedikit tertawa agar sandiwara ini berjalan lancar.
Makan malam berjalan dengan lancar, masih seperti tadi pagi eomma menyinggung masalah cucu, aboji padahal sudah memperingatkan untuk tidak buru – buru karena baekhyun juga belum lulus kuliah. tapi aku senang dengan suasana hari ini baekhyun juga tertawa riang, suasana hangat dalam rumah kami yang tak kudapatkan 1 bulan menikah. Byun baekhyun si maniac kopi .
Hari ini eomma dan aboji berpamitan pulang dan eomma tetap memaksaku minum susu untuk kandungan. Aihh percuma aku minum. aku dan baekhyun tak melakukannya, tapi semenjak baekhyun memeluk dan aku menciumnya aku rasa kejadian salah satu penyebab aku memerah dan tak bisa menatapnya lagi.
Hari ini kampus ramai seperti biasa ada beberapa event di lapangan basket, aku hanya bisa menatap dari atas gedung kelasku, aku malas turun kesana. baekhyun ada disana aku tak tau harus apa kalau aku melihatnya, tiap malam saja seranjang dengannya saja aku merasa canggung sempat berfikir pindah kekamar tamu karena malu.
“choco-ah kajja kita turun kau tak ingin mencicipi makanan yang ada di event?” teriak sehun manja, aku mengikuti sehun kearah event. baekhyun sedang ngobrol dengan teman yeojanya dengan mesra, aihh membuatku muak.
“dia tak bisa berubah walaupun beristri.” Ucap kai dingin, sejak kapan kai di sampingku? Kai dan sehun mengenggam tanganku erat.
kami berjalan menyusuri beberapa tenda, aku bahkan tak sadar kai sudah tak ada di sampingku lagi, entahlah kemana dia pergi.
sekarang aku berduan dengan sehun, kamipun duduk di samping pohon belakang event.
“choco-ah… kenapa kau tak menikah saja denganku?” ucap sehun asal sambil memakai popcorn coklatnya, aih pertanyaan keberapa yang dia tanyakan kepadaku.
“ahhaha… mana mau aku menikah dengan orang cadel sepertimu sehun, aahah nggak bisa bayangin hidup dengan orang sepertimu, aku bisa di cakar yeoja yang mengejarmu. Wajah cantikku sangat mulus ini..”
candaku membuat kami tertawa hingga mengelurkan air mata sedikit di sudut mataku. sehun diam. dia menatapku dengan tersenyum manis, benar juga kata para yeoja disana sehun memiliki wajah yang tampan dan senyum yang sangat manis.
Entah keberanian dari mana sehun mulai mendekatkan wajahnya padaku menutup matanya OMO!! apa yang harus kulakukan apa aku akan menerima sehun menciumku, entahlah jaraknya semakin dekat, tiba – tiba ada sebuah tangan menarik hoodieku kebelakang, membuatku menjauh dari sehun beberapa senti.
Membuatku kaget hampir berteriak. baekhyun dia… dia mencengkram kerah sehun, menatapnya marah, aku menatap kaget apa yang baekhyun lakukan. Ia tak melakukan apapun, baekhyun diam menatap sehun.
Choco pov end
Baekhyun pov
Kutarik paksa choco menjauh dari sehun, membawanya masuk kedalam mobilku. Aku tak perduli meninggalkan event walaupun aku ketua acra resmi ini, dimobil kami terdiam tak ada pergerakan sama sekali, aku bahkan tak membawanya pulang.
Aku bingung mau kemana, 2 jam kami masih di mobil perputar mengelilingi seoul hingga waktu menunjukkan pukul 7 malam. Aku mampir ke kedai kopi dan membawanya turun dari mobil. kami duduk di pojok ini spot privat yang biasa kuhabiskan belajarku disini.
“kopi pertama malam ini. Pahit,hambar,penuh ampas. Seperti pasangan yang sudah tidak cocok tapi memaksa untuk cocok, karena takut sendirian lagi.”
“aku pusing…” sambungku lagi sambil memijit kepalaku pusing, memikirkan kejadian yang hampir terjadi. kenapa aku peduli padanya? Dia tampak duduk dan menunduk menatap cheesecake yang ada di meja diam dan diam.
Kami duduk selama 2 jam, aihh bisa di hitung aktifitas kami sama lamanya perjalanan dari seoul ke incheon. Kuraih tangannya lembut mengajaknya keluar untuk makan malam dan pulang untuk istirahat.
aku bangun dengan kepala pusing sekali, kulirik jam masih jam 4 pagi kuedarrkan pandnganku kesamping tubuhku. kemana choco? jangan bilang dia tidur dikamar tamu.
kuhidupkan semua lampu, kucari choco dari kamar mandi, kamar tamu, ruang tamu tapi dia tak ada. Kemana dia apa dia kabur karena aku? Bisa di penggal kepalaku sama aboji. Kuhampiri dapur mengambil segelas air, kubuka kulkas mengambil air. Kemana dia pergi. Pikiranku sudah tak karuan tak sengaja gelas yang kugenggam terjatuhh.
“waeyo.. apa yang kau lakukan pagi seperti ini di dapur baekhyun-ssi..” suara itu kubalikakan tubuhku mencari pemilik suara tersebut, kang choco tengah menatapku bingung dia dari luar terlihat dengan jelas penampilannya yang memakai hoodie kelincinya.
Dengan cepat kutarik choco kedalama pelukanku, mendekapnya posesif, kang choco kenapa kau bisa membuatku kecanduan. Kau melebihi kopi yang selalu kuminum setiap hari, sejak kapan aku jadi seperti ini?. Aku takut kehilangannya.
Baekhyun pov end
Choco pov
Ada apa dengan baekhyun? Kulepaskan pelukannya, membawanya duduk di kursi dekat meja makan dia menatapku sendu. kupikir mata itu tak pernah menangis tapi sekarang aku melihatnya meneteskan airmata, byun baekhyun kau menangis?. Kubuatkan baekhyun kopi untuk menenangkanya.
“kopi pertama pagi ini. Manis, kental, harum . seperti cinta yang semakin ditahan semakin sengit.”
baekhyun menatapku dengan tersenyum matanya seperti bulan sabit tak pernah kulihat senyumnya seperti itu. aku mebalas senyuman padanya.
“kau kemana saja? Di luar sangat dingin dan ini masih gelap, kau dari mana? Apa kau tak apa – apa?”
“aihh.. satu – satu kalau bertanya beakhyun-ssi! Aku bingung mau jawab yang mana!”
“ah mian, kau darimana choco?”
“aku dari pasar membeli hati dan telur ikan!”
#hening
baekhyun tak bertanya lagi padaku, aku juga tak berani bertanya pada baekhyun juga. kuputuskan meninggalkannya kembali tidur, baekhyun juga mengekoriku tidur di sampingku dengan tenang.
“ehm.. choco-ssi mianhae, kejadian semalam, seharusnya aku tak melarangmu dan sehun, aku hanya reflex saja, maafkan aku kang choco…”
“gwenchana baekhyun-ssi, kau sudah menyelamatkanku dari si playboy sehun…Dan aku gomapta ne, waktu itu juga kau sudah menyelamatkanku dari kai…”
“ah.. jinjjayo? Kau nggak marah kan?,”
“ani obseo baekhyun-ssi, hoamm aku ngantukk,.”
“cha-chakamman choco… apakah kita bisa berteman baik?”
“hemm…” memunggunginya mungkin lebih baik rasanya jantungku berpacu, kenapa baekhyun berubah dengan cepat membuatku bingung. Eomma .. apa yang harus kulakukan, apa aku jatuh cinta pada maiak kopi ini.
Pagi ini aku masak cukup banyak, karena eommaku akan datang, aihh kenapa juga mereka bergilir untuk datang? Membuatku harus berpura – pura mesra dengan baekhyun lagi, dan ini membuatku gila. Baekhyun memakan roti panggangnya dan meminum kopi secara bergantian. Kenapa dia tenang sekali, apa dia lupa tentang perkataannya malam kemarin.
“kopi kali ini. Manis, hangat,pekat, dan penuh ampas. Seperti penolakan yang tidak tega untuk disampaikan.”
TING.. TINGG..
“aku akan membuka pintu.”
“aigoo… menantuku tambah tampan saja, bagaimana keadaanmu nak, bocah itu merawatmu dengan baik kan?” baekhyun membawa eomma masuk dan dia datang memelukku dari belakang berbisik lirih “kenapa eommamu datang, kau tak memberitahuku.” wajahku tiba-tiba saja memerah padam.
“aigoo.. kalian semakin dekat saja, benar kataku kan sayang baekhyun ini namja yang baik, sopan dan penuh kasih sayang kau beruntung sekali menjadi istrinya.”
“ah.. eomma membuatku malu saja, chakkama eomma aku akan membersihkan kamar tamu dulu ne?”
baekhyun membersihkan kamar? Apa tidak salah, biasanya dia hanya mau membersihkan sepatu – sepatunya yang segudang itu.
“heh gimana perkembangan janinmu?”
“haihh janin apa sih eomma? Aku belum hamil.”
“yak!! Pabo apa kurangynya baekhyun? Dia kan punya wajah dan tubuh yang pas, pastilah cepat membuahkan hasil sekali melakukan . Sudah berapa kali kau melakukan itu dengan baekhyun?”
kenapa dengan orang tuaku dia seperti dokter kandungan saja tanya masalah privasi, aih aku malas menjawabnya.
Choco pov end
Bakhyun pov
Makan siang kali ini ramai lagi kemarin eommaku sekarang ganti eommanya choco, menyenangkan sekali eomma choco beliau sangat baik, cara bicaranya saja blak-blakan sekali terkadang aku malu sendiri kalau beliau sudah duduk bersamaku, karena beliau membuka aib – aib konyol choco maka dari itu choco memutuskan bergulat didapur daripada mendengarkan eommanya bercerita dirinya.
Aku jadi tau semua tentang choco, dia ternyata anak manja, tapi saat bersamaaku tidak manja sama sekali, tapi satu hal yang membuatku senang ketika eommanya membawaku buku, ah bukan buku lebih tepatnya album photo yang dibukukan, aku banyak melihat choco sedang telanjang.
“lihat dia telanjang seperti ini waktu kecil pasti akan sangat berbedakan kan baekhyun pada malam pertama kalian?”
eomma bertanya dengan polosnya, aih aku baru tau mertuaku ternyata lebih gila dari ibuku sendiri.
“ehehe.. nde.. eomma bisa saja,..”
kenapa aku bisa menjawabnya? Aku belum sama sekali melihatnya telanjang apa lagi malam pertama, aku saja masih ingat ketika malam pertama aku terlalu banyak menghabiskan kopi karena frustasi hingga aku tidak tidur 3 hari penuh.
“Changi-ah bantu aku sebentar!!!” teriakakan dari dapur mengagetkanku yang tengah memperhatikan photo – photo telanjang choco waktu kecil. Buru – buru aku datang dan melihatnya melipat tangannya sambil berdiri,
“jangan dengarkan kata eommaku,”
“arraseo…”
aku kembali dengan duduk di samping eomma choco yang tengah menonton tv,
“oh iya, besok kalian menginap di incheon ye? Aku kemarin membuatkan obat untuk cepat mendapatkan anak, tapi aku lupa membawanya, lagipula haraboji sangat merindukan kalian,.”
“nde eomma” benar – benar kenapa dengan mereka, cucu saja yang dibahas, percuma kan minum obat ini itu kalau gak ngelakuin itu sama saja sangat sia – sia sekali.
“haihh.. kenapa bayi dalam acara strong heart sangat lucu, aku berharap dapat cucu yang tampan sepertimu baekhyun, eh apa choco selalu melakukan dengan benar?”
aku menatap eomma aku kurang mengerti maksud eomma apa yang dimasud melakukan itu?. Aigoo mukaku sudah merah padam, kenapa eomma menanyakan hal sevulgar ini.
“Eomma berhenti berkata aneh –aneh!” teriak choco dengan wajah belepotan coklat, sebenarnya sedang apa yang dia lakukan di dapur? baunya sangat manis sekali bau choco.
“yak, pabo sedang apa kau lihatlah wajahmu penuh dengan coklat, tidak malu dengan suamimu hah?!” aihh apa sekarang mereka saling teriak satu sama lain, ibu dan anak tak ada bedanya, aku hanya bisa tersenyum saja melihat tingkah mereka, mertua dan istriku mereka sangat aneh. Tapi kalau dilihat choco dan nyonya kang terlihat seumuran tidak seperti anak dan ibu.
Malam ini kami menyiapkan baju untuk esok berangkat ke incheon, ah bukan aku yang menyiapkan baju tapi choco yang menyipakan baju untukku karena dia sudah membuat kegaduhan dengan ibunya tadi hitung – hitung rasa bersalah, ya bisa dibilang begitu.
“choco-ssi.. kenapa mereka semakin memaksa kita mempunyai anak?” choco membalikkan badan menatapku yang tengah tiduran di tempat tidur, ia hanya menggerakkan pundakknya dan kembali mengepakki baju.
Malam semakin larut, eomma sudah tidur dikamar tamu dan choco sudah pingsan dari jam 8 tadi, akupun membuat kopi di dapur dan memutuskan meminumnya di balkon kamar.
“kopi malam ini. Pahit,pekat,penuh ampas. Seperti jatuh cinta tapi tak dianggap.” Haih kenapa juga aku membuat kopi sepahit ini, kupandang wajah choco dari balkon yang tertutup kaca, choco tidur dengan sangat manis. dia cantik walaupun memakai pajama panjang seperti itu. choco si gadis manja dan tak pernah manja denganku padahal aku ingin sekali dia manja di depanku.memintaku ini itu dengan manja. Choco apa aku jatuh cinta padamu?.
Siang ini kami sudah sampai di incheon dengan selamat, dan haraboji memeluk cucunya dengan sayang sedangkan aku sudah di ajak berkebun dengan aboji, dan kenapa pula abojji mengajakku?, aku heran dengan aboji padahal beliau salah satu pengusaha terkenal dan mempunyai cabang dimana termasuk di tetannga kami korea utara.
Malam ini kami semua berkumpul di taman sambil menikmati pesta barbeque kebetulan teman bisnis aboji juga ikut pesta kami, haraboji sibuk main catur sedangkan aku dan choco hanya saling diam duduk di bangku dia tengah asyik memainkan smartphonenya mungkin sedang chat dengan sehun dan kai, biarkan sajalah mungkin dia rindu mereka karena eomma meminta kami untuk seminggu di incheon tanpa ada alasan apapun untuk menolak.
Malam semakin larut semakin ramai pestanya para petani kebun juga ikut datang. choco sudah mulai ngantuk dan tanpa sengaja dia menyadarkan kepalanya di pundakku.
“haihh… yeoja manja ini selalu tidur saat sedang ramai seperti ini, baekhyun ini kopimu, minumlah..”
aku masih memperhatikan wajah manis choco yang tidur dengan manis dipundakku. bibir manis itu aku sudah pernah mencobanya, tengkuk jenjang itu juga sudah pernah kucoba, choco kenapa kau cantik sekalu? Seharusnya kau manis. Ah jinjja apa aku benar – benar sedang jatuh cinta dengan istriku sendiri?
“kopi malam ini. Manis, tidak ingin habis, seperti denganmu, kang choco.” Kuambil ponsel choco, ini pertama kalinya aku membuka isi ponselnya, wallpapernya mereka bertiga, aihh menyebalkan, kubuka k-talk ternyata choco tak chat dengan mereka sejak 2hari lalu, waeyo?
Kubuka beberapa photo choco, aigoo ternyata dia yeoja yang narsis lihatlah hampir 1000 photo choco. kusentuh tanda share ya begitulah aku kirimkan beberapa photo choco ke ponselku, entah kenapa aku ingin sekali menjadikan photo choco untuk wallpaperku.
Baekhyun pov end
Choco pov
Akh.. badanku sakit dan lelah, apa aku kecapaian berpergian. Apa yang kukatakan? Padahal yang menyetir baekhyun dan bukan aku. Matahari tampaknya sangat cerah mungkin akan menyenangkan bila berkebun kulihat baekhyun masih tertidur.
Kubuatkan baekhyun segelas kopi dan roti panggang, kenapa sangat sepi sekali rumah ini? Kemana mereka semua.
“changi-ah kalian ikut mau ikut kekebun tidak? Hari ini apel dan anggur harus dipanen!” suara eomma dari luar jendela dapur.
“ndee nanti aku menyusul eomma..”
“kopi pertama pagi ini. Manis setelah diaduk. Seperti cinta yang tersembunyi di orang yang tidak pernah disangka-sangka.” Aku menatap dan tersenyum pada baekhyun meminum habis dan pergi mandi dia ikut memanen di kebun.
Aku bosan menunggu baekhyun di depan rumah, kenapa dia mandi sangat lama padahal hanya kekebun bukan ke kantor aboji.
”kajja.. cuacanya sangat cerah!”
baekhyun menggangdeng tangan kiriku membuatku terkejut tak biasanya, ahh aku tau ini salah satu drama yang kita mainkan. Byun baekhyun kenapa saat seperti ini jantungku terasa berhenti, kenapa aku memiliki cinta sepihak. Menyedihkan sekali kau kang choco.
“ya! Nyonya byun baekhyun cepat petik anggurnya, kau tak kasihan suamimu yang memetik dan kau yang memakannya.”
Eomma yang mendapatiku sedang memakan anggur yang di petik baekhyun, memang sih dari tadi aku hanya memakan anggur – anggur merah ini karena mereka memintaku memakan mereka.
“sudahlah eomma, mataku tak akan gemuk memakan anggur – anggur ini kan? Lagipula suamiku juga tak marah, bukan begitu kan?”
baekhyun tertawa menanggapi kami. kenapa dia terlihat tampan saat berkeringat seperti ini. Panas semakin menyengat.
Aku dan baekhyun mengampiri pohon – pohon apel merah, bentuk dan warna mereka memintaku untuk dimakan ye? Tapi sayangnya aku sudah sangat kenyang.
Aku dan baekhyun duduk kelelahan memanen apel – apel ini, kenapa juga eomma dan aboji harus memanen seperti ini. tapi sangat menyenangkan bisa menghabiskan waktu dengan baekhyun seharian, banyak yang kita lakukan memetik dan bercanda ya mungkin ini hanya pura-pura saja.
“choco kau tau kisah apel merah ini?”
“hem waeyo? Kalau gak salah Apel adalah buah suci dewi Aphrodite, ada yang bilang apel adalah buah terlarang, karena buah yang digunakan hawa untuk membujuk adam agar mencoba adalah buah apel…”
“dan ada yang bilang melempar apel kearah seseorang adalah symbol pernyataan cinta kepadanya, begitu juga, orang menyambut apel merupakan lambang penerimaan cinta” sambung baekhyun. ternyata dia juga tau, waktu sudah semakin sore, langit sudah berwarna orange, aku dan baekhyun berjalan pulang.
“heyy kalian cepat mandi ne..”
“ndee..”
“choco-ah.. tangkap..” baekhyun melempar apel merah yang sangat segar kearahku dan kutangkap dengan kedua tanganku, sayang sekali ‘kan apel segar ini pasti enak untuk dimakan.
“semoga kisah apel ini benar terjadi…” baekhyun lari meninggalkanku masuk kedalam rumah. semoga kisah apel ini benar terjadi? Apa yang dimaksud baekhyun tadi.
Dan ada yang bilang melempar apel kearah seseorang adalah symbol pernyataan cinta kepadanya, begitu juga, orang menyambut apel merupakan lambing penerimaan cinta. Apa yang dimaksud baekhyun adalah….
Apakah cintaku tak sepihak? Apa baekhyun juga menyukaiku? Aku harus apa? Aku tak ingin hanya menjadi mainannya saja. Byun baekhyun. Byun baeekhyun. Byun baeekhyun. Byun baeekhyun. Byun baeekhyun.
Kuselesaikan mandiku yang panjang, kepalaku pusing bukan karena lama mandi tapi karena memikirkan tentang apel itu. Kulangkahkan kakiku duduk di samping baekhyun yang sedang menunggu eomma membuatkan kopi untuknya. Baekhyun menatapku dan tersenyum manis.
“kopi malam ini. Pahit, ada rindu yang mengampas. Manis, ada cinta yang diteguk tanpa terburu – buru.” Baekhyun kembali mentapku dalam, begitu juga denganku. wajah baekhyun sangat dekat hanya beberapa centi saja, baekhyun mengecup bibirku, bau kopi.
Dia membuatku malu ada eomma dan aboji disini, untung haraboji tak ada disini bisa-bisa kami mendengarkan ceramahnya yang kuno itu.
“aigoo… kalian, membuatku iri saja..”
“sayang… apa yang kau katakan? Kalian harus cepat mempunyai anak, arra!”
mereka pergi meninggalkan kami berdua di dapur.
“nde.. eomma kami akan berusaha..” apa yang dikatakan baekhyun ha?
Baekhyun kembali memandangku. Tersenyum.. menatapku.. hanya itu, baekhyun menarikku kekamar, membuatku bingung mau apa dia?
Jangan – jangan! Andwae! Shireo! Baekhyun mendudukkan di tepi tempat tidur ia berjongkok didepanku menatapku dalam, apa yang dia lalukan.
Choco pov end
Baekhyun pov
“ehmm wa-waeyo baekhyun-ssi” kenapa choco gugup? Seharusnya aku yang gugup bukan dia, aih lucu sekali. Aku harus bicara padanya.
“kang choco dengarkan aku baik-baik aku sudah jatuh cinta padamu. Aku berharap kau juga mencintaiku. Ahh Mungkin ini gila, aku jatuh cinta dengan istriku sendiri lucu bukan hheeheh….” Aku hanya bisa tertawa choco tak menyukaiku. dia hanya diam saja.
“baekhyun-ssi aku juga jatuh cinta padamu, mungkin aku juga gila jatuh cinta dengan suaminya sendiri. Hehehe…” choco mencintaiku juga, rasanya aku ingin berteriak keras, aku terlalu bahagia sekali.
Kuambil tempat duduk di samping choco,menatapnya penuh arti. Wajah putih pucat dan bibir mungil milik kang choco begitu menggoda, bagaimana bisa ada yeoja sesempurna ini didunia dan dia berada di sampingku 1bulan terakhir ini,kenapa aku begitu bodoh tak menyadarinya.
“kang choco..” kududukkan choco diatas pangkuanku, memeluk tubuh yeoja kecil ini didekapanku. Hangat sekali kau kang choco istriku yang paling cantik. kudekatkan bibirku menyesap bibir choco yang begitu manis. Choco mulai mengalungkan tangannya dileherku dan mulai membalas pelan lumatan bibirku.
Tidak peduli dengan asupan oksigen yang mulai berkurang perlahan tanganku pelan – pelan mengelus dan sesekali meremas punggung choco,rambut dan merambat ke tengkuk. Kugigit kecil bibirnya membuatnya mengerang dan membuka mulutnya, kumanfaatkan keadaan ini menelusupkan lidahku kerongga mulutnya. Saliva kami bercampur jadi Satu. Choco mulai kehabisan napas. Untuk sejenak aku berhenti melumat bibir manis choco. yeoja ini dia menundukan wajahnya yang memerah di kedua sisi wajahnya. kuanggakat dagunya mentapnya dalam begitu juga dengan choco.
Kembali kusentuh bibir choco yang mungil, choco hanya diam. Bisa kurasakan dada choco berdegup dengan kencangnya dalam pelukkanku, kueratkan pelukakanku hingga tubuh kami saling bersentuhan tak berjarak.
“baek…” lenguhnya saat kembali ciumanku turun menyentuh lehernya yang putih, kucium setiap inchi leher choco, perlahan kubawa choco untuk berbaring tanpa berhenti dari kegiatanku. Sebagian badanku mulai menindihi choco. Aku tak tahan, kulirik choco sangat menikmati apa yang kulakukan. Ia memenjamkan matanya rapat-rapat begitu juga bibir bawahnya yang digigit menahan sesuatu.
Lihatlah terlalu banyak tanda dilehernya bagaimana esok dia mengelak dari orang rumah? Hehhee…
Tangaku perlahan semakin turun mengelus bagian pahanya. Choco kembali melenguh saat tanganku semakin masuk naik menyentuh perut datarnya dan kembali turun dibagian dalam pangkal paha.
“baekk…ahh. baekkie..” baekkie? Dia memanggilku baekki, ahh kyeopta. Perlahan kucoba melebarkan kakinya dan memposisikan tubuhku diantara kedua kakinya membuat kaos kebasarannaya naik kepinggang. Tubuhku semakin menekan tubuh mungil choco hingga badan kami benar-benar tak berjarak sama sekali. Arrghh… adikku menekan inti tubuh milik choco dibalik celanannya yang sudah mulai basah. Kenapa dia bisa naik, padahal ini Cuma ciuman saja.
kunaikan ciumannya keatas telinganya, kuhisap lagi permukaaan lehernya. choco mencoba menengadah agar aku bisa lebih leluasa. Choco masih memejamkan mata dan menggigit bibir menahan desahannya agar orang di rumah tidak bisa mendengarnya yang sangat seksi itu. Nafas choco mulai terengah-engah. Keringat sudah membasahi dahiku. Tangan halusnya mengusap keringatku dengan lembut sambil tersenyum cantik.
Tanganku kembali naik saat kembali kusatukan bibir kami untuk bertautan, tanganku mulai mengelus punggung choco mencari sesuatu untuk dilepaskannya. pengait bra choco terbuka. kini jemariku bermain lihai menaikin payudara choco memberi sedikit remasan. Kunaikkan piyamanya, omona choco kenapa kau begitu seksi? Kukecup payudaranya yang begitu pas di genggaman tanganku, kuhisap nipleenya yang sudah mulai menegang.
“ohh baeumm…. Eumpp……baekkiee……” tangan kanannya berusaha mencengkeram kuat seprai dan tangan kirinya menekan kepalaku, menekan lebih dalam untuk menikmati payudaranya. apa rasanya sungguh nikmat choco?. Choco terus Memejamkan matanya dan menggigit bibir menahan desahan.
“baekkie aku belumm…. Akhh…”
“jebal.. malam ini aku sangat senang, jangan menolakku arra?” akal sehatku sudah hilang entah kemana. Hanya nafsu yang mengambil alih tubuhku sekarang. Aku ingin memilikinya sekarang. Kang choco yang paling aku cintai.
“aigoo.. jeongmal…hahh…hhaahh…” deru nafasku yang memburu memenuhi kamar tidur kami, ani tepatnya kamar tidur choco. Aku masih mengatur nafasku dengan menyandarkan kepalaku di bantal tempat tidur ini. Begitu juga choco yang masih terpejam lelah dengan nafas yang terengah-engah dia sama sepertiku mengatur nafasnya agar normal kembali. kumemiringkan kepalaku melihat wajahnya yang terpejam. Tubuh kami masih bersatu dan aku masih menindihnya, aku tahu mungkin ia masih merasa berat, tapi rasanya tubuhku malas untuk bangun melepaskan tautan kami.
kami lebih bisa bernafas normal, perlahan akupun mengeluarkan milikku dari dalam choco. Membuat choco mendesah ketika aku keluar darinya. menarik selimut menutupi kami.
“changi.. mian aku lepas kendali” bodoh bagaimana aku bisa melakukannya semua mengalir begitu saja, mesum sekali otakku aku lepas kendali. Kepeluk choco dan mulai kupejamkan mataku. Rasanya senang sekali, hari ini kupikir tak pernah terjadi.
“gwenchana, itu juga sudah menjadi kewajibanku sebagai istrimu dan hakmu memintanya.”
#othepalce
“aihh… anak muda jaman sekarang, melakukan itu tidak lihat tempat, walaupun dikamar setidaknya dikunci, semoga aku cepat mendapatkan cicit….” Aboji mengeluh sambil mengaduk teh hijaunya.
End.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar