Author : Kim 1304
Tittle : I am not “kitty”
Catagory : NC17, Yadong, Romance, vignette
Cast : Chaerin (oc) dan Kris EXO
Ini FF sedikit yadong tapi, remaja banget. Semoga suka.
Chaerin PovSuara desahan-desahan itu kembali terdengar. Hampir setiap malam aku mendengarkannya. Bukankah melakukan itu menyakitkan? Kenapa mereka ketagihan?
“besok aku upacara. Tidak bisakah tidak ribut?!”teriakku dari kamarku. Aku yakin omma dan kekasihnya itu mendengarkannya. Setelah sedikit tenang aku pun kembali tidur.
—–
Di hari yang cerah ini aku mengayunkan langkah kaki ku ke aula. Ada upacara penyambutan penerimaan siswa/i baru karena itu aula sudah sangat ramai dan aku terpaksa duduk paling belakang. Sekolahku ini sekolah teladan. Siswa dan siswinya sangat kaku, disiplin dan membosankan. Bahkan karena ketatnya peraturan, kami semua terlihat sama seperti kembar. Dari seragam hingga potongan rambut, cewek dan cowok memiliki potongan rambut yang sama. Bahkan aku tak bisa memanjangkan sedikit rambutku. Sungguh membosankan.
Di hari yang cerah ini aku mengayunkan langkah kaki ku ke aula. Ada upacara penyambutan penerimaan siswa/i baru karena itu aula sudah sangat ramai dan aku terpaksa duduk paling belakang. Sekolahku ini sekolah teladan. Siswa dan siswinya sangat kaku, disiplin dan membosankan. Bahkan karena ketatnya peraturan, kami semua terlihat sama seperti kembar. Dari seragam hingga potongan rambut, cewek dan cowok memiliki potongan rambut yang sama. Bahkan aku tak bisa memanjangkan sedikit rambutku. Sungguh membosankan.
Ku putuskan mengambil secarik kertas dan pena di tasku. Mulai memainkan imajinasiku untuk cerpenku. Kepala sekolah sedang “mendongeng” jadi akan wajar jika aku seakan-akan mencatat nasehat-nasehatnya itu. Memang tidak ada pengajar yang akan mengawasi atau pun akan menegurku tapi, aku sadar CCTV telah aktif. Aku tetap saja menulis. Tidak mungkin CCTV mampu membaca tulisanku yang kecil dan halus seperti bayangan ini.
@08.00 malam ruang kelas
Kulirik teman-teman di sekelilingku, mereka masih fokus dengan kekasih mereka yaitu buku tebal berisi ribuan soal yang berbeda. Ku raih tas di belakang kursiku.
“kau mau pulang?”tanya teman yang duduk di belakangku. Aku mengagguk pelan.
“nanti saja. Aku mohon, Chaerin! Aku tidak di jemput malam ini.”katanya memohon. Aku menghembuskan nafasku.
“aku harus pulang sekarang. Rumahku sangat jauh.”kataku malas.
“aku mohon. Aku tidak berani pulang sendirian, rumahku hanya searah denganmu. Kau kan bisa bela diri. Aku mohon.”katanya memohon dan memasang wajah memelas.
“baiklah!”jawabku dan kembali menatap mejaku. Ku putuskan mengambil bukuku, mencoba belajar seperti mereka.
@bis
“ku dengar kau penulis yang sekarang lagi terkenal?”kata temanku mencoba memecahkan suasana.
“dari mana kau tahu? Itu hanya kebetulan saja nama kecilku mirip dengan penulis itu.”Elakku sambil mengotak-atik ponselku untuk memainkan musik.
“aku rasa juga seperti itu. Kau kan gadis tomboy yang tidak pernah pacaran bagaimana mungkin bisa menulis kisah remaja seromantis itu.”katanya cengengesan. Huft.. aku tidak tomboy! Aku juga ingin punya kekasih. Aku juga ingin pulang sambil bergandengan tangan dengan kekasihku. Tapi, aku yang tak percaya pada cowok, tidak mungkin aku bisa dekat dengan kaum cowok itu.
Aku turun dari bis dan berjalan kaki seorang diri karena temanku sudah turun duluan di halte sebelumnya. Jalanan ini memang terang tapi, tidak begitu ramai karena letaknya tidak di tengah kota dan cukup jauh dari pusat kota. Walau begitu aku tidak takut karena aku bukan gadis penakut.
Tap! Tap! Tap! Langkah sepatu ada dibelakangku. Aku rasa itu langkah seorang cowok. Kulirik kebelakang.
“wah, kau miss cool!”teriak cowok itu sambil menunjukku. Bisa dibilang dia teman SMPku. Jalanan ini tidak mendaki tapi, dia melangkah dengan berat karena dia sedang mabuk sekarang.
“miss Cool?? Kris memanggilku begitu karena kau tak mengingat namaku kan?”tegurku sambil memperhatikan dia berjalan.
“hehehe.. kau tak berubah. Tubuhmu dan sifatmu masih saja seperti dulu, anak-anak.”katanya sambil mengencangkan suaranya saat mengatakan ‘anak-anak’.
“kau juga sama. Masih seperti dulu, sok dewasa! Kita seumuran hanya saja kau jauh lebih tinggi lalu kau bisa mengataiku?”balasku. kini dia semakin dekat denganku, di raihnya tanganku dan digemgamnya.
“kau tak boleh keluar malam-malam begini. Nanti kau di culik, biarkan paman ini yang mengantarmu.”candanya mengatakan dia adalah sang paman itu.
“ck! Mengantarku? Bilang saja kau takut jatuh karena jalanmu sempoyongan begini.”ledekku.
“kau benar, anak kecil! Jika aku jatuh aku takut terjadi sesuatu dengan wajah tampanku ini.”katanya bercanda.
“ck! Mengelikan.”kataku.
Tak terasa aku kini sudah di depan rumahku. Dari depan gerbang aku bisa melihat ibuku sedang berciuman mesra dengan kekasihnya di balkon lantai dua kamarnya.
“khm! Sebaiknya aku segera pulang. Kau masuk lah!”katanya. Dia pun membalikkan tubuhnya perlahan-lahan mulai jauh dariku. Kulihat ibuku yang sudah berada di “awang-awang”. Tanpa sadar aku berlari dan menarik baju Kris. Dia melihatku binggung. Ibu macam apa dia? Dia mengikatku untuk menjadi yeoja santun, cerdas, dan tidak mengenal game atau pun jalan dengan teman agar jadi yeoja baik-baik. Tapi, dia selalu memberikan ilmu anehnya itu padaku. Aku sungguh tak tahan lagi.
“bawa aku!”kataku begitu saja.
“kau jangan bercanda!”katanya kaget.
“aku mohon. Aku bisa tidur di lantai!”kataku mencoba meyakinkannya. Sebenarnya aku tak terlalu akrab dengannya hanya saja saat SMP kami pernah beberapa kali menjadi kelompok belajar. Walau penampilannya badboy dia jago di pelajaran. Dan menjadi sedikit lebih dekat karena music, kami mempunyai selera music yang sama.
@rumah Kris.
Aku kaget melihat rumahnya yang besar dan rapi.
“pasti kau membayar orang untuk membereskannya”kataku.
“tidak. Aku membereskan sendiri. Hanya saja aku meminta binatu untuk menyuci bajuku. Masuklah!”ajaknya sambil membuka kulkas dan mengambil dua botol mineral dari sana. Aku membuka sepatu dan kaos kakiku lalu, duduk di sofanya.
“ngomong-ngomong kau masih sekolah?”tanyaku takut-takut. Walau dulu nilainya sangat bagus karena sikapnya dia hampir DO.
“walau aku ini anak nakal tapi, aku tidak pernah berhenti sekolah. Sembarangan saja!”katanya sambil menaruhkan botol mineral di meja depanku.
“hehehe.. aku ingin segera tidur. Dimana aku bisa tidur?”tanyaku.
“di kamar sana saja.” Katanya sambil menunjuk sebuah pintu.
“oh, kamar mandinya?”
“di kamar”
Setelah aku keluar dari kamar mandi untuk mandi aku melihat Kris tiduran di sofa yang ada di dekat kasurnya.
“Kris, kau sudah tidur? Tidurlah di kasur!”kataku.
“eh, kau saja! Tidak baik gadis tidur di sofa.”katanya masih memejamkan matanya.
“kalau begitu kau tidur di kasur bersamaku.”
“kau kira kita anak kecil.”protesnya.
“aku tahu kau playboy dan nakal tapi, aku juga tahu kau itu menghargai wanita. Jadi aku tidak takut.”
“…”
“kau tak mau?”
“…”
“apa-apan kau!!” teriaknya saat aku tiduran di lantai.
“tuan rumah di sofa, aku yang numpang tentu saja tidur di lantai.”jawabku.
“baiklah!!”katanya dengan malas naik ke kasur dan aku tidur di sebelahnya.
Alarmku berbunyi aku segera mematikan alarm dan membuka mataku. Aku lihat Kris tidur di lantai dengan nyenyaknya. Ternyata dia pindah.
“dia memang namja baik.”gumamku sambil tersenyum.
Kris Pov
Aku tersentak kaget karena matahari sudah tinggi. Kulirik kasurku, dia sudah tidak ada. Aku berjalan menuju dapur untuk memasak mie. Tapi, di meja makan sudah tersedia nasi goreng dengan post-it berwarna kuning.
‘terimakasih sudah memunggutku tadi malam. Jika aku tak bertemu denganmu mungkin aku akan jadi gelandangan. Kau memang namja yang baik
Dia pasti salah mengira. Tadi malam aku hampir saja menyentuhnnya sehingga aku menahan diriku dengan tidur di lantai. Aku ini namja normal wajar saja jika aku ingin menyentuhnya. Dia cinta pertamaku. Satu-satunya yeoja yang tidak mengagap remeh aku karena aku belum fasih bahasa Korea dan satu-satunya yeoja yang memperlakukanku biasa saja tanpa melihat wajahku ataupun backgroudku yang lebih tinggi dari namja di sekolahku.
Aku baru saja keluar dari kamar mandi. Tubuhku hanya kututupi dengan handuk dibagian bawah. Membiarkan air dari rambutku menetes di tubuhku dan lantai.
Ting! Tong!
Dengan keadaanku masih basah aku membuka pintu.
“ada apa?”tanyaku saat membuka pintu. Seorang yeoja membalikkan tubuhnya. Aku sudah tahu bahwa dia adalah Chaerin.
“pakai bajumu! Aku ini yeoja”perintahnya masih membelakangiku.
“harus? Kau kan bukan seorang yeoja.”ledekku.
“kau!”katanya sambil membalik dan langsung terdiam.
“bilang kalau kau sudah mengunakan bajumu!”
“ada apa lagi? Masuklah!”ajakku.
“bolehkah aku menginap disini lagi?”tanyanya.
“aku tak mau tahu tentang alasanmu itu. Kau tak boleh menginap lagi!”kataku mengeleng-gelengkan kepalaku.
@beberapa saat kemudian.
“ini selimutmu!”kataku sambil melemparkan selimut pada Chaerin. yeoja di depanku ini mana bisa kutolak permintaanya karena aku menyukainya. Dia yang terlalu “suci” dan aku terlalu “kotor” hingga aku tak berani berada di dekatnya. Tapi, karena musik kami berteman. Hanya karena musik kami bercerita awalnya dan kami menjadi dekat. Setelah sekian lama tak bertemu ternyata dia masih sama seperti dulu, susah untukku raih.
“kau tidur dimana? Lantai lagi?”tanyanya dan melihatku yang menyiapkan batai di lantai untukku tidur.
“saat aku pulang omma tak khawatir denganku yang tak pulang dan saat aku mau belajar suara mereka sedang bercinta malah terdengar dari kamarnya. Mereka melakukannya hampir setiap hari dan aku meminta mereka diam juga hampir setiap hari.”katanya mengomel. Aku menyandarkan kepalaku ke bantal. Menarik selimutku hingga dipinggangku.
“kau pernah melakukanya?”tanyanya tiba-tiba membuat aku tersedak karena air liurku sendiri.
“biar pun aku nakal aku tak mungkin melakukan hal itu pada yeoja sembarangan.”balasku.
“aku penasaran bagaimana rasanya. Kau mau mencobanya denganku?”nyanya dengan polos.
“kau bercanda! Sudah malam. Kau harus tidur. Kau kan anak disiplin pasti kau takut terlambat kesekolah kan.”kataku mengalihkan pembicaraan.
Brukk!! Chaerin menjatuhkan tubuhnya hingga sebagian tubuhnya menimpaku.
“aku tak bercanda. Aku ingin mencobanya denganmu.”katanya serius.
“kau mabuk?”tanyaku gugup. Kenapa aku yang gugup?
Chaerin mencium bibirku, menelus dadaku dan kakinya menghimpit kakiku. Aku membalas ciumannya dan menciumnya semakin dalam.
“ini sudah cukup!”kataku berusaha menghentikan dia dan diriku sendiri. Aku mencoba mengontrol diriku kembali. Tapi, aku tidak bisa mengontrol diriku kembali saat Chaerin memasukkan tanganku ke kaosnya dan menekan-nekan tanganku di dadanya.
“hmm..”desahnya. Aku tak bisa menahan diriku lagi dan kami melakukannya.
“inikah namanya make love? Eeuh..”ucap Chaerin dengan tersengal-sengal.
“sepertinya begitu. Aah.. aah..”kataku sambil mengerakan pinggulku dengan cepat.
“kriss.. egh.. sesuatu.. akan keluar di tubuhku.”
“tidak apa-apa. Keluarkan”kataku semakin mengentakan pinggulku dangan cepat dan lebih dalam.
“ahh.. sial ini nikmat. Augh.. augh..”
“teruslah mendesah. Aku suka”ucapku lalu mencium bibirnya kembali sambil meremas dadanya.
Chaerin Pov
Namja yang tidur di sebelahku ini bukanlah orang VIP. Sebanrnya bukan namja baik-baik tapi, aku menyukainya. Aku tak tahu apa yang aku rasakan tapi, aku tahu aku selalu ingin di sampingnya dan disentuhnya.
Ommaku mengira aku telah punya kekasih malah menyarankanku tinggal di sini. Aku tak masalah.
“oppa..”kataku dengan sedikit manja saat dia membukakan pintu rumahnya. Dia mengenakan seragam sekolahnya.
“hua.. kau benar-benar sekolah.”kataku kaget. Dia terlihat rapi dari pada biasanya.
“kau sekolah di SM?”tanyaku kaget. SM adalah sekolah elite kebanyakan siswa di sana adalah anak-anak cerdas. Tak heran bila dia masuk situ dengan otaknya tapi, dengan sikapnya yang seenaknya itu apa cocok bersekolah disana?
“kau kenapa lagi? Kenapa membawa koper?”tanyanya cuek. Dia keluar dari rumahnya.
“aku berantem dengan ommaku. Jadi dia mengusirku.”jawabku sambil masuk begitu saja, melewatinya.
“anak kecil!! Siapa yang mengizinkanmu masuk??”katanya sedikit membentak dan masuk ke rumah lalu menuntup pintu rumahnya. Aku letakkan koperku begitu saja.
“kau bilang aku anak kecil? Kau mengatakan aku anak kecil setelah kau memiliki tubuhku?”kataku sambil menatapnya. Wajahnya menjadi memerah, sungguh lucu. Image badboynya selalu luntur jika bersamaku tapi, sepertinya malah aku yang badgirl didepannya.
“a..”
“OK. Kita lakukan dengan dewasa. Aku tinggal disini dan aku milikmu, bagaimana?”tanyaku.
“kau bicara apa?”katanya histeris. Dia pasti sangat malu.
“kalau begitu tak masalah aku tinggal disini.”ucapku sambil ke kamarnya.
“memang kau tak ada teman perempuan?”
“memang dulu aku punya teman perempuan?”jawabku.
“bagaimana aku tahu. Aku lebih sering tidak hadir karena libur atau di skors dibandingkan berada dikelas.”jawabnya dengan ekpresi lucu.
“kalau begitu aku akan tinggal disini sampai batas yang tidak bisa di tentukan.”kataku santai.
“ta..”
“diam!”ucapku. dia terdiam dan aku menaiki sofanya dan mengecup bibirnya.
“aku boleh disinikan, oppa?”kataku dengan suara manja dan Kris mengaguk pelan.
Mungkin ini terburu-buru hanya saja mungkin saja ini cinta lama yang tak disadari. Sedikit gila karena kenapa ini berjalan semudah ini. Aku tak peduli jika orang menggapku kotor sekarang berada di tekanan dan menjadi orang lain itu sangat menjengkelkan. Aku akan hidup sesukaku seakan taka da lagi hari esok untuk menikmati dunia ini. Aku tak ingin menjadi kitty yang manis karena aku ingin menjadi diriku sendiri. Seekor kitty juga bisa mencakar.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar